Thursday, September 20, 2007

The Tale of Two Campuses

Fiuh, akhirnya selesai juga ganti layout baru (best viewed with Mozilla Firefox). Blogger saat ini telah menggunakan format XML sehingga dapat mempermudah desain. Namun, sayangnya, belum banyak penyedia template Blogger gratisan yang telah mengadaptasi model baru ini. Mudah-mudahan sebentar lagi layout berformat XML akan tersedia dalam jumlah yang banyak.

Layout yang baru ini bernuansa hijau. Jika Anda adalah penggemar Tolkien, tentu Anda tahu bahwa tema dari layout ini adalah tentang The Hobbit. Saya sengaja memilih layout ini karena ada sense of adventure-nya. Semoga kesan yang diberikan menambah seru isi blog ini. What a good place to inscribe my daily adventure here.

Anyway, speaking of new things, you may have noticed that BiNus is building its new campus. Akibat dari pembangunan tersebut, rute pejalan kaki yang ingin memasuki kampus Anggrek sekarang berubah. The problem is that the new route has been causing a heavy traffic jam. Selain itu, populasi mahasiswa BiNus yang membengkak sangatlah menyebalkan. Being in Anggrek campus now feels like living in ant hole (not that I have been in one before). It's so hot and crowded that it's not appropriate to study there anymore.

Di semester 7 ini saya harus kuliah selama dua hari: hari Senin di kampus anggrek, sedangkan hari selasa di kampus Kijang, Anggrek, dan Syahdan. Namun, saya juga harus menghadiri kelas ERP di BiNus International pada hari Rabu dan Kamis. The thing about BiNus International campus is it feels like a very suitable place to study. Proporsi mahasiswa dan dosen yang memenuhi kampus tersebut sangatlah pas: tidak terlalu ramai, namun juga tidak terlalu sepi. Tidak ada yang namanya berdesak-desakan.

What a very nice campus!

Suasana di dalam kelas yang saya hadiri pun sangat menyenangkan. Kelas tersebut sifatnya hands-on di laboratorium. Kelas yang saya hadiri hanya terdiri dari 11 mahasiswa (termasuk seorang bule yang bicara bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta dengan sangat fasih), ditambah saya dan teman-teman skripsi saya. Dosen di kelas tersebut sangat bersahabat. He is the Head of Information System Department in BiNus International.

Mahasiswa di BiNus International bebas menggunakan pakaian apapun asalkan "sopan". Tidak seperti di BiNus reguler yang terlalu konservatif, mereka diperkenankan memakai sandal dan celana pendek. Bahkan pada hari pertama saya kuliah di sana, saya sempat terkejut dengan satu kejadian yang menurut saya luar biasa. Seorang mahasiswa perempuan duduk bersila di atas kursi di depan dosen kelas itu (yang tadi telah saya sebutkan di atas adalah seorang ketua jurusan). Seorang mahasiswa laki-laki di seberangnya bahkan duduk selonjoran di atas dua kursi yang saling berhadapan!

Bagi saya, hal tersebut sudah di luar batas kesopanan akademik. Tapi, dari situ saya berkesimpulan bahwa hubungan antara dosen dan mahasiswa kelas tersebut sudah sangat dekat. Tentu tidak mengherankan bahwa hal tersebut dapat terjadi. Rasio rata-rata dosen dan mahasiswa yang mungkin tidak mencapai 1:20 adalah salah satu penyebab utamanya. Jauh berbeda dengan situasi di BiNus reguler dimana 1 kelas bisa terdiri dari 70 orang.

Look how comfy the couch is!

Inilah kenyataan yang terjadi saat ini: dua kampus dalam satu yayasan, dengan kualitas pelayanan yang jauh berbeda. The one with good services is for the rich and the other one with poor services is for the poor.

Honestly, I'm a little bit jealous of BiNus International students. Yes, they pay twice as much as we do. Tapi setidaknya BiNus reguler harus tahu diri. Jangan seenaknya menerima mahasiswa begitu banyaknya tanpa memperhitungkan faktor kenyamanan civitasnya dan kelayakan fasilitas yang dimiliki. Mungkin sudah saatnya ISO-nya dicabut. Idealnya, tunggulah gedung yang baru tersebut selesai dibangun, baru menerima mahasiswa dalam jumlah yang lebih besar. Jangan seperti sekarang ini. Dalam bahasa prokem yang sepadan: "Ngaca dong!"

P.S.:
The pictures was attached in favor of Adrian's request. You can't ask for pictures everytime, Adrian!