Mata kuliah Character Building III: Relasi dengan Tuhan (berkode CB132) telah saya lewati di semester 6 barusan. Dosen saya sering memberikan tugas untuk didiskusikan di forum BiNusMaya. Tugas terakhir yang diberikan beliau adalah tentang relevansi dan peran agama di masa sekarang. Di tanggal dan jam yang kata orang (yang gemar dengan mitos ataupun yang terlalu banyak membaca rubrik astrologi di majalah atau tabloid wanita) hoki dan keramat ini (07-07-07 07:07), saya tergerak untuk menulis kembali dan mempublikasikan tulisan saya mengenai topik diskusi itu. Berikut adalah pandangan saya saat ini mengenai agama.
Warning:
Yang mudah tersinggung jangan teruskan membaca! Silakan close layar Firefox anda. Jika anda belum memakai Firefox, silakan download Firefox di situs ini.
Agama-agama saat ini belum memainkan peran yang tepat dan konkrit dalam menjawab persoalan manusia yang semakin kompleks sekarang ini, baik ragam maupun intensitasnya. Malahan bagi saya yang pragmatis ini, agama justru menambah persoalan manusia. Agama tidaklah relevan lagi dalam hidup manusia saat ini. Alasannya adalah agama-agama yang ada memberlakukan nilai-nilai yang berlaku pada ribuan tahun yang lalu, yang saat ini semakin usang. Modernisasi membutuhkan pola pikir yang baru dan dinamis. Agama-agama yang ada tidak mampu mengikuti perkembangan zaman.
Sebut saja persoalan persamaan gender. Di zaman yang semakin menipiskan perbedaan antara laki-laki dan perempuan saat ini, agama masih saja sempat untuk memilah-milah masyarakat berdasarkan gender. Padahal pembedaan gender yang terjadi dalam agama-agama merupakan hasil kebudayaan zaman lampau yang seharusnya tidak lagi dipraktikkan di zaman sekarang.
Tidak hanya itu saja, masalah mengenai seksualitas dipandang sebagai suatu kejijikan dan hal yang tabu dalam pandangan agama. Hal yang seharusnya merupakan salah satu anugerah terbaik yang diberikan Tuhan bagi manusia, justru dipandang sebagai kekotoran. Poligami yang relevan di zaman dulu tentu saja tidak lagi pantas di zaman ini. Namun, poligami masih saja diusung dan didukung oleh agama.
Agama melarang hubungan seks sebelum menikah. Padahal, di masa sekarang, seks bukanlah sesuatu yang tabu lagi. Tentu saja saya tidak mendukung hubungan seks berganti-ganti pasangan. Namun, bukan berarti saya tidak mendukung seks sebelum menikah. Alasannya adalah justru dengan seks sebelum menikah pasangan manusia dapat melihat dan mengalami kecocokan dalam hal seks. Para ahli saat ini setuju bahwa pernikahan yang langgeng terutama ditentukan oleh faktor hubungan seks. Karena itu, menurut saya, jika setelah menikah barulah pasangan melakukan hubungan seks, maka mungkin saja dialami sexual incompatibility, yang justru akan berbuntut pada perceraian. Justru sejak awallah harus diketahui apakah satu pasangan compatible secara seksual atau tidak.
Perbudakan yang tidak sepantasnya lagi dilakukan saat ini, ternyata masih saja tetap dilakukan dengan dalih aturan agama. Sebut saja di India, yang mayoritas menganut agama Hindu. Salah satu artikel di majalah Kartini bulan ini menceritakan mengenai satu kasta selain empat kasta utama yang sangat terpinggirkan dan bahkan dianggap sebagai manusia binatang. Kaum laki-lakinya dianggap sebagai manusia rendahan dan ciptaan yang cacat. Kaum perempuan masih jauh lebih baik nasibnya, walaupun ujung-ujungnya mereka harus melayani libido para kaum Brahman. For God's sake, people! Inikah yang disebut agama, agama yang menjunjung perbudakan dan menginja-injak martabat insani?
Permasalahan lain adalah agama justru mengkotak-kotakkan manusia. Lihat saja di beberapa daerah di Indonesia. Daerah-daerah yang basis Islam mengusung aturan-aturan agamanya untuk dimasukkan ke peraturan daerah (perda). Di Aceh misalnya, dimana syariat Islam dijadikan aturan bagi masyarakat yang justru plural. Perda syariah bukan satu-satunya. Ada juga perda antimaksiat, anitmiras, antijudi, dan antipelacuran yang telah disahkan di pelbagai daerah yang berpenduduk mayoritas muslim.
Melihat munculnya perda-perda berbau agama itu, Kabupaten Manokwari pun tak mau ketinggalan. Dalam salah satu artikel di majalah Tempo kira-kira 2 bulan lalu diceritakan bahwa perda Injil pun lantas diusung untuk diresmikan. Jika hal-hal seperti ini terus dibiarkan, dalam waktu yang tidak lama, semua daerah akan membuat perdanya masing-masing menurut agama dominan di daerahnya. Menurut saya, biarlah perkara iman berada di ruang privat. Agama, apalagi pemerintah, tidak perlu repot-repot mengaturnya. Akibat dari perda-perda berbau agama tersebut dapat memicu terjadinya konflik horizontal.
Harusnya, agama mengajarkan toleransi yang tulus. Hal ini jelas-jelas kontroversial jika kita melihat fatwa yang dikeluarkan MUI beberapa waktu yang lalu. Isi fatwa itu adalah larangan bagi umat Islam untuk memberi ucapan selamat kepada umat Kristen saat merayakan Natal. Oknum-oknum fanatis yang membawa nama agama seperti itu justru yang membuat toleransi sebagai utopia belaka. Lihat saja kemunafikan para pemuka agama yang jika tampil di depan publik bersama pemuka agama lainnya berseru, "Marilah kita saling mengasihi dan menghormati. Walaupun kita berbeda-beda agama, Tuhan kita sama." Setelah acara tersebut selesai, mereka kembali ke umat mereka dan mengajarkan bahwa Tuhan agama mereka sajalah yang benar dan keselamatan hanya diperuntukkan bagi mereka, sedangkan agama-agama yang lain beserta penganutnya merupakan domba-domba yang hilang sehingga harus diselamatkan dan dipertobatkan. Enough of that crap already! Lihat betapa arogannya manusia-manusia yang ditempa oleh agama: Tuhan pun dijadikan hak milik.
Masalah-masalah yang saya sebutkan di atas hanya sedikit dari problematika yang menyebabkan agama bagi saya tidak lagi relevan saat ini. Agama dipandang hanya sebagai beban yang harus dipikul oleh masyarakat. Para penganut agama bak sapi yang dicucuk hidungnya dan ditarik kemana tuannya mau. Belum lagi maraknya kekerasan dan konflik yang membawa panji-panji agama yang justru merugikan semua pihak. Tidak heran, begitu banyak orang yang saat ini menjadi tidak beragama.
Hanya ada satu solusi mengenai hal di atas bagi masyarakat di zaman ini: hapuskan agama! Nilai-nilai yang sudah usang dan tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang harus segera dibuang. Jangan sediakan ruang sedikit pun kekolotan dan hal-hal destruktif yang disebarkan agama. Ajaran-ajaran yang sudah basi tidak perlu diterapkan lagi dalam hidup saat ini.
Agama telah terlalu mencampuri ruang kehidupan bersama. Agama telah merambah ranah kehidupan manusia yang seharusnya tidak boleh diaturnya. Penghapusan agama justru akan dapat melahirkan kebebasan publik. Adalah kerinduan saya untuk melihat sebuah dunia tanpa agama, dimana label maupun pernak-pernik agama tidak lagi bermakna. Argh, I hate labels!
NB:
Ternyata tulisan ini bukan saja di-post pada 07-07-07 07:07, tapi juga pada hari ke-7 (Sabtu)! Seperti Allah beristirahat pada hari ketujuh (Baca kitab Kejadian 2:2), saatnya pula bagi saya untuk istirahat di hari yang (katanya) keramat ini.
Saturday, July 7, 2007
Dunia Tanpa Agama
Inscribed by
Stewart
at
7:07 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)








17 comments:
Miss your posts...
At last, you've updated your blog Stew...
hmmm...
My opinion :
Sebenarnya bukan agama yang salah. Tapi oknum-oknum yang menggunakan agama sebagai jalan pemulus politik hina mereka. Jika seluruh umat beragama di dunia ini tidak menggunakan agama sebagai kedok bagi kehinaan mereka, I am sure we'll have a better world. But then, agama sekarang sudah dijadikan alat politik belaka. Bahkan sedihnya, dengan nama agama, dengan menyebut nama Tuhan, mereka membunuh manusia lain dengan alasan pembelaan agama. Aku setuju dengan penyelewengan agama saat ini, namun jelas, aku tidak setuju dengan 2 point yang kamu sebutkan Stew.
Yang pertama : seks pra-nikah. Alasanku : marrying people is not only about have a good sex life, it's about to accept someone who'll be our bride/groom. Sex adalah simbol yang berharga dari Tuhan, indeed. Tapi itu hanyalah simbol untuk mengungkapkan cinta, biarpun memang nafsu berkecimpung di dalamnya, dan seringkali orang tidak dapat menahannya, mungkin aku pun dapat saja terpeleset.
Yang kedua : hapuskan agama. Agama memang sekarang mungkin saja malah menjadi pemecah dan pemisah hidup manusia. Namun aku tidak setuju penghapusan agama. Yang perlu dilakukan adalah, perbaiki moral manusia. Luruskan agama. Agama membawa hal-hal yang baik kok terhadap manusia.
Wufff... ternyata commentku panjang jg. Kasian ste, ga ada yang comment, jadi aku comment aja nih... hahahahahhaa.... nice alibi.
Waiting for your next post!
Selamat hari serba 7!
Regards,
Xander™
great... agama cmn permainan politik... dan nabi2 dan rasul adalah politisnya semekin besar agama itu maka akan semakin busuk agama itu...
hidup agnostic lol
Benar-benar hari keramat yang perlu dicatat dalam buku sejarah.. Akhirnya Stewart sempat update blognya.
Nice topic, nice idea and nice blog. :)
The magic has been lost. Agama kini hanya mengelompokkan manusia. Jurang pemisah antar agama semakin curam. Manusia kini saling bunuh dengan mengatasnamakan agama dan lupa esensi dari hidup. Tidakkah agama jadi alat politik? alat kekuasaan?
Menurut gw, agama itu sebenarnya tercipta karena ada orang yang sadar bahwa manusia perlu dikendalikan oleh sesuatu yang "omni"/"Maha". Namun, mereka lupa bahwa manusia punya naluri untuk menandingi atau melebihi yang lain. Akhirnya, ada muncul banyak agama dengan berbagai distro.
About sex, I can't imagine if I were having a wife that had been f*cked couple of times by her ex-BFs. Hahaha... Mungkin karena pengaruh budaya ya..
Hapuskan agama? Mau bikin Agama 2.0 ? Yang open source gitu? Mungkin norma(-agama) sudah cukup bisa mengendalikan manusia..
Selamat datang di abad kegelapan agama!!!
cuek akh... dasar orang aneh
Wow.. ngepostnya ditungguin tu ya sambil pegang stop watch :P
Sama seperti post2 diatas sih.. cuma gw sih memegang agama gw sejauh gw tau itu benar dan bermanfaat...
So gak tau juga dengan perbudakan, kekerasan ato penyelewengan2 lain..
Khusus buat seks gw setuju ama Xander. Sex itu simbol, kalo buat kecocokan itu masalah napsu menurut gw. Cocok gak ama selera dan tuntutan wakakakak...
Nice post.. and keep on update
setuju dengan raykuro :D
hohoho... nice blog Rod..
dunia tanpa agama.. wew..
sebenarnya yang salah bukan agamanya.. tapi orang-orang yang berada didalamnya.
Pemimpin2 agama terkadang hanya bisa berkata-kata, tapi tanpa perbuatan..
Tapi selama ajaran itu baik, why not ?? Kita gk usah liat orangnya.. liat aja ajarannya. Tul gk ??
Kalo soal seks-pranikah sih gue gk setuju.. hmmm maybe gara2 budaya atau apa.. dUnno bOut daT.
keep blogging Rod.. ^_^
GBU ^_^
Thanx all for the comments. Selalu saja ada pihak-pihak yang menatasnamakan agama untuk berbuat something bad. Karena itu, hapus saja agama, supaya minimal hilang satu alasan / khilah. Tanpa ada agama, setidaknya tidak akan ada Forum Pembela Some-Religion. Human race have so evolved that they now can live without such crap so called religion anymore.
setubuhhhhh....
i love to live with no religion... it makes life more comfortable without differences...
cape dengan yang namanya SARA... >.<
Stew keren sekali ini kata sexual incompatibility..wakaka
artikel yg bagus.. n gw sangat setubuh eh setuju dengan pemikiran bung stewart.. soal nya masalah ini jg pernah saya perdebatkan dengan dosen matkul cb.. xixixixi..
what is religion anyway ? agama adalah salah satu alat Tuhan untuk membuat manusia bisa membedakan mana yang baik dan buruk, sebagai pengganti hati nurani manusia yang kadang2 bisa mogok bekerja.
rasa kreatifitas yang ada pada manusia memungkinkan pemahaman yang berbeda2 terhadap baik dan buruk, sehingga munculnya agama2 dengan aturan yang berbeda. namun, hal2 baik dan buruk yang pokok tetap menjadi fondasi dari setiap agama yang ada.
jika dunia tanpa agama, maka tidak ada lagi rambu2 yang mengatur mana yang baik dan mana yang buruk.
karena itu, apa yang dikatakan Stewart bener.. world with no religion, menghapuskan satu masalah, yaitu : orang2 tidak akan lagi melakukan bad things atas nama agama.
bukan karena agamanya yang ga ada, tapi lebih karena bad things-nya yang ga ada. dunia tanpa agama tidak mengenal baik dan buruknya suatu perbuatan. semua perbuatan hanyalah perbuatan.
so people will do things in the name of anything that makes them ok.
salah satu contoh gampang : tribal life in Papua.. they know religion, but they're not inpired by it, karena itu bisa dibilang, world with no religion.. mereka tetap hidup dengan hukum alam, mata ganti mata, gigi ganti gigi, nyawa ganti nyawa. siapa kuat, dia menang dan berkuasa.
do you think that the tribe war in Papua caused by religion ? I don't think so, but still there's a war and killing each other, in what name ? in the name of their tribes..
do you think a world like that is a good world to be lived ?
well, it's just me :)
duh, kepanjangan commentnya..
Menurut gue agama akan selalu ada,...
mau bentuknya Islam, Kristen, Hindu, Budha,. yang menganggap tuhan itu ada, atau, sejenis atheis Komunis, demokrat, atau apalah,yang menganggap tuhan itu tidak ada.. pengotakan dan peraturan akan terangkum dalam kitab kitab yang juga akan memiliki peraturan dan segala tetek bengek Undang undang, perda, atau kepress yang juga harus dii patuhi,..
stiap daerah atau negara akan memiliki agama yang lain,.. sooo hidup tanpa aturan/tanpa agama tidak akan mungkin,..
BETWEEN ALL RELIGION IN THE WORLD,
YOU MUST MAKE THE COMPARISON.
WHEN YOU SEE THE TRUTH,YOU WILL ENTER THAT RELIGION.ONLY ONE RELIGION IN THE WORLD, OTHERS ARE IDEALISME.
I WILL GIVE YOU AN EXAMPLE.
WHICH RELIGION THAT ITS SACRED BOOK BEING READ AND BEING MEMORISED WHOLELY?
IT IS QURAN. IF YOU SEE THE BIBLE (IT CANNOT BE CALLED WITH THE WORD 'INJIL' BECAUSE BIBLE HAD BEEN ADDED BY HUMAN WORDS AND THINKINGS),THERE ARE VARIOUS KINDS OF BIBLE. WHICH ONE YOU WANT TO MEMORISED? REVISED VERSION?
IN FACT, THAT HAVE BEEN PROVEN THAT MANY SCIENTIFIC FACTS THAT IS FALSE , AS AN EXAMPLE IN THE FIRST PAGE OF GENESIS.
YOU CANNOT SAY WHEN YOU MEET THE GOD SOON, YOU HAVE NOT BEEN TOLD OR BEING SENT ANY PROPHET. WHEN YOU MEET YOUR GOD, YOUR MOUTH CANNOT SPEAK, BUT YOUR ANOTHER BODY PARTS SUCH AS HANDS AND LEGS WILL TELL WHAT HAVE YOU DONE IN THIS TEMPORARY WORLD. THINKS ABOUT THAT BECAUSE WHEN YOU MEET YOUR GOD AND NOT BRING WHAT HE WANTS, YOUR REGRET AT THAT TIME WILL NOT BE ACCEPTED. YOUR LIFE ONLY ONCE.
Wah, orang2 seperti "therightpath" inilah yang lucunya setengah mati. Kasian deh lu masih bersikukuh kalau agama lu itu benar.. Shame on you!
Menurut gw sih agama adalah penjajahan bagi bangsa indonesia. Bayangin aja, berapa banyak kepercayaan nenek moyang kita yang hilang akibat migrasi 5 agama di Indonesia. Trus, kita berdoa, bertingkah laku, dan melakukan semua hal sesuai dengan keyakinan dari kelima agama tersebut. Padahal jelas banget hal itu menghilangkan identitas bangsa. Belum tentu pula kan kepercayaan animisme bangsa kita lebih jelek dari 5 agama tersebut. Maluu donk, hari gini masih dibodohi orang-orang eropa, asia tengah, asia selatan, dan tempat-tempat lahirnya agama itu.
Padahal agama itu lahir juga diawali dengan animisme dari masing-masing daerah, cuma mereka aja yang lebih cepat tanggap akan peluang bagi bangsanya di masa depan. Ga seperti bangsa kita yang malah membuang jauh-jauh kepercayaan animisme yang sebenarnya bisa dikembangkan jadi agama. Eeh, malah ikut arus mengikuti agama mereka. Ya jadilah seperti sekarang. Kebiasaan bangsa lain diadaptasi, trus dibangga-banggain.
Gw yakin, agama diciptakan oleh manusia, bukan wahyu dari tuhan. Karena itulah,saat ini negara-negara tempat lahirnya agama itu laris dengan promosi religiusnya. Kita seakan diberikan hal-hal terbaik di dunia ini, padahal itu salah satu alat memperbodoh bangsa kita. Coba deh kalo bangsa kita dari dulu pintar, mungkin akan banyak devisa yang bakalan didapat dari kedok agama saat ini.
Gw setuju jika harus ada "rules" dalam kehidupan ini, tapi gw ga suka kalo harus memakai kedok agama, apalagi harus mengikuti aturan-aturan agama yang udah
tidak relevan dengan bangsa kita semacam kegiatan-kegiatan agama yang sebenarnya hanya layak diterapkan di negara munculnya agama itu.
Agama memang mempunyai banyak hal positif tetapi, disatu sisi juga menawarkan pembelajaran yang negatif. Oleh karena itu, mari kita junjung HAM, penalaran, dan logika diatas ajaran agama, bukan agama diatas segala-galanya. KArena dengan hal itulah kita akan bisa berpikir jauh lebih baik.
enakan dunia tanpa cina kali...
Post a Comment