Saya menganggap pertemanan adalah sesuatu yang baik dan harus dipupuk, agar bisa bertumbuh dan kemudian berbunga. Begitu banyak media dan sarana untuk berteman. Sejak saya duduk di bangku SD di suatu daerah terpencil nun jauh di Tobelo, Maluku Utara (akibat seringnya ayah saya dimutasi akibat tuntutan pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil), saya sudah menjalin hubungan pertemanan dengan orang-orang yang tidak saya kenal.
The medium is correspondence. Hal ini disebabkan oleh kegemaran saya membaca sejak kecil, karena mungkin sejak masih biru sudah disuguhi majalah Bobo oleh ibu saya. Melalui Bobo itulah, saya mengetahui alamat beberapa anak kecil juga (karena saya pada waktu itu juga masih kecil tentunya) dan saya pun mulai berkorespondensi.
Sahabat pena saya tersebar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Dari hobi ini jugalah saya menjadi seorang filatelis. Ada sahabat pena saya yang berasal Kalimantan, Jakarta, Palembang, bahkan ada juga dari Jepang. Yang dari Jepang ini mungkin tidak perlu dihitung oleh karena dia tidak pernah membalas surat saya, mungkin karena tidak mengerti apa yang saya tulis dalam surat tersebut.
Namun, hobi korespondensi hanya bertahan sekitar 2 tahun saja. Sejak saya pindah ke Manado, Sulawesi Utara, saya tidak pernah lagi melakukan kontak dengan sahabat-sahabat pena saya tersebut.
Waktu saya menjadi seorang siswa berseragam putih abu-abu, saya mulai mengenal suatu jaringan pertemanan di internet, yang bernama Friendster. Situs ini pertama kali saya tahu pada saat saya duduk di bangku kelas 3 SMA. Memang pada waktu itu, Friendster baru mulai naik daun dan booming di Indonesia.
Singkat cerita, saya pun akhirnya membuat account di Friendster - the same account until now and still the one since it is not full yet. Saya pun sering pergi ke rumah seorang teman yang tinggal dekat rumah saya dengan tujuan memakai koneksi internetnya untuk mengakses situs ini. And then, I become obsessed with this site.
Saya mulai dari teman-teman satu sekolah saya yang telah mengenal Friendster. It's really simple. Saya tinggal melakukan proses searching menggunakan keyword nama lengkap atau alamat e-mail, maka saya bisa melihat account teman saya. Bisa juga dengan mencarinya secara manual melalui gallery yang telah disediakan dengan kriteria pencarian yang bisa di-customize.
Sedikit demi sedikit jumlah teman-teman saya di Friendster semakin banyak, karena semakin banyak pula teman saya yang mulai membuat account di Friendster. Berbeda dengan teman-teman saya lainnya, yang meng-add orang-orang yang tidak dikenal untuk kemudian berkenalan (most of them are boys who look for hot and pretty girls), saya hanya meng-add orang-orang yang saya kenal.
Well, memang tidak 100%. Ada beberapa orang yang tidak saya kenal sebelumnya, yang saya add karena saya tertarik dengan profile-nya, dan ada pula yang serta-merta meng-add saya (dan tentu saja sebagai orang yang sangat mendukung pertemanan, saya tidak mungkin me-reject-nya).
Friendster membantu saya untuk tetap berhubungan dengan teman-teman saya. Bahkan, kadang ada teman yang telah sangat lama tidak bertemu dengan saya, tiba-tiba saja meng-add saya di Friendster. Begitu pula sebaliknya. Friendster does help me in finding my old and lost friends.
Sekarang Friendster telah berkali-kali mengganti tampilan. Berbagai fitur baru pun telah ditambahkan untuk menarik lebih banyak pengguna, mulai dari classifieds (info untuk lowongan pekerjaan), groups (forum untuk para penggunanya), sampai blog (diari online seperti yang saat ini anda baca). Wow! That's really a good offer for a free service.
If you take a look of my profile in Friendster, you will see that Friendster helps me show the narcissistic side of my inner-self. Semua yang saya banggakan dicantumkan di sana, mulai dari buku-buku kegemaran, kepribadian, sampai daftar keanggotaan saya di berbagai institusi.
Belum lagi 79 testimony yang menghiasi profile saya tersebut. A half of those testimonies are in Manadonese. Harap maklum, teman-teman saya tidak menyadari bahwa saya sangat terkenal di mana-mana dan mereka tidak menyangka bahwa profile saya akan dibaca oleh begitu banyak orang dari berbagai penjuru dunia, sehingga mereka menulis testimony dalam bahasa planet yang tidak bisa dimengerti oleh banyak orang. But, thanks anyways for their chance of writing my testimony.
Setengah testimony lainnya ditulis oleh teman-teman saya lainnya yang saya kenal sejak saya berdiam di Jakarta. Berbagai pujian, ungkapan salut, makian, cercaan, dan yang terpenting penggambaran diri saya dari kacamata mereka saya approve. Tidak ada satu pun yang saya reject. Dan sampai sekarang, jumlah teman first degree saya adalah 370 orang.
Tapi, ada satu hal yang cukup menggelitik saya. Fitur sites search yang disediakan oleh Friendster memang banyak digunakan oleh para pengguna Friendster. Dalam popular searches in Stewart's network, muncul list sebagai berikut:
1. tanpa bh
2. rok tersingkap
3. pengalaman bercinta
4. ramalan jodoh
5. penismu
6. 17tahun.blogspot.com
7. yenny ho
8. tanpa cd dan bh
9. tips on dating
10. night club clothes
Itu artinya, dari 370 teman saya, begitu banyak yang melakukan pencarian di atas. Entah apa tujuannya. Hanya sekedar mencari informasi, referensi, atau menjadi obyek pemuasan mata dan pikiran. Kalau benar-benar ingin mencari suatu situs, kenapa tidak mencarinya melalui Google saja? Google telah terbukti sebagai the most powerful search engine dan bisa memunculkan sekian juta entri yang berhubungan dengan keyword yang dicari. Pencarian yang lebih spesifik bisa dilakukan asal kita mengerti cara menggunakannya.
Itulah sekelumit pengalaman saya selama proses pertemanan, baik melalui korespondensi, maupun melalui teknologi canggih internet yang dimanfaatkan oleh Friendster. Thanks to Friendster that helps me know that I'm really popular in cyber world. Now, I love myself so much. It’s ridiculous!
Wednesday, September 21, 2005
Friendster Does Help Me In Friendship
Tuesday, September 20, 2005
Overflowing Contentment
I am so happy today. Excited, tepatnya. Bukan karena saya menang lotre pacuan kuda. Bukan juga karena saya mendapat mobil dari undian berhadiah. Saya senang karena saya lolos ke babak final dari lomba BNSC (Bina Nusantara Skill Competition) 2005 yang saya ikuti pada hari minggu (18 September 2005) lalu.
BNSC 2005 adalah lomba yang menguji kemampuan IT dalam menggunakan program word processing (Microsoft Word), spreadsheet (Microsoft Excell), web designer (Microsoft Frontpage), presentation application (Microsoft Powerpoint), database application (Microsoft Access), dan design application (CorelDraw dan Adobe Photoshop).
Babak penyisihan yang saya ikuti tersebut dilakukan secara online dan dibagi menjadi 2 babak, yaitu babak 100 soal pilihan ganda (pukul 10.00 - 12.00) dan kemudian dilanjutkan dengan 8 soal essay (pukul 13.00 - 16.00).
Jadi, saya pergi ke kos seorang teman untuk meminjam komputer dan internet connection-nya dalam mengerjakan soal-soal tersebut. Selain itu, teman saya tersebut bersama seorang teman yang lain juga turut membantu saya (walaupun hanya sedikit saja) dalam mengerjakan soal essay.
Saya sempat melakukan kesalahan yang cukup fatal pada babak pertama. Saya menyangka bahwa scoring system-nya adalah +1 untuk tiap jawaban benar, -1 untuk tiap jawaban yang salah, dan 0 untuk yang tidak dijawab. Ternyata BNSC 2005 tidak menganut sistem tersebut. Yang menganut sistem tersebut adalah HAPC (HIMTI Algorithm and Programming Competition) 2005 yang juga akan saya ikuti nanti.
Bingung! Kacau deh jadinya. Padahal ada sekitar 25-an nomor yang saya skip karena saya tidak tahu jawabannya dan saya takut dikurangi poin benar saya. Belum lagi koneksi ke server BiNus yang sangat lambat akibat banyaknya orang yang mengakses situs yang sama secara serempak.
Alhasil, untuk melakukan login saja, waktu telah terbuang percuma. Lambatnya server BiNus tersebut berlangsung terus selama saya mengerjakan 20 soal pertama. Untunglah, akhirnya server BiNus bisa berjalan dengan normal kembali dan akses ke situs lombanya bisa dilakukan dengan cepat.
Akhirnya dalam result akhir babak pertama, saya menduduki peringkat 24 dari 140 peserta, dengan total 46% benar. Saya cukup khawatir juga dengan hasil tersebut. Karena, untuk babak final, hanya akan dipilih 35 peserta teratas. Sementara, peringkat pertama pada babak pertama itu mendapat score 70% benar.
Untuk babak kedua, saya hanya bisa menjawab 4 soal. Soal yang saya jawab berjenis formatting document di Microsoft Word, pembuatan table & formula di Microsoft Word, mendesain poster di Microsoft Word, serta penggunaan formula di Microsoft Excell. Dari 4 yang bisa saya jawab tersebut pun tidak semuanya benar total.
Saya sempat cukup heran akan soal mendesain poster menggunakan Microsoft Word. Ada saja soal yang aneh seperti ini. Membuat poster menggunakan Microsoft Word benar-benar tidak efisien sama sekali. Hanya membuang waktu saja. Waktu saya habis karena mengerjakan soal tersebut.
Tadi malam, pengumuman para peserta yang lolos ke babak final telah diumumkan. Dan di hasil akhirnya, saya menduduki peringkat 18 dari 35 peserta yang lolos. Padahal, jujur saja saya akui, tidak ada persiapan apa-apa yang saya lakukan untuk mengikuti lomba tersebut. Saya seperti tentara yang maju ke medan perang tanpa latihan.
Untuk mengikuti final BNSC 2005 yang akan diadakan pada hari Sabtu - Minggu (24 - 25 September 2005) depan, saya harus melakukan persiapan. Walaupun peluang untuk mendapat peringkat I, II, atau III untuk tingkat college sangatlah kecil (mengingat bahwa saya harus berhadapan dengan peserta-peserta yang jago-jago), saya tidak mau kalah sebelum berperang.
Saya harus berusaha sekuat tenaga saya. Doakan saya, agar saya bisa melakukan dan meraih yang terbaik.
Thursday, September 15, 2005
Popularitas Semu
Ada dua hal menyenangkan yang saya alami kemarin.
Pertama, dosen Kalkulus II saya berhalangan hadir. Artinya, saya tidak perlu menghabiskan dua shift di kampus untuk menghitung persamaan diferensial dan pengintegralan, yang saya rasa tidak berguna dan tidak aplikatif untuk kehidupan saya saat ini.
Kedua, saya menyusup ke kelas teman saya untuk mengikuti pelajaran Bahasa Inggris II. Gugup dan agak takut memang, karena saya khawatir jika diabsen dan ada quiz. Ternyata kekhawatiran saya tidak terwujud. Kelas itu cukup menyenangkan.
Setelah kelas Bahasa Inggris tersebut, saya dan teman-teman lainnya makan di food court kampus Anggrek. Ternyata UKM Band sedang melakukan konser untuk penggalangan dana. Tebak siapa bintang tamunya? Tak lain dan tak bukan, bintang tamunya adalah Bojes. Dengan asumsi bahwa anda mengetahui, setidaknya pernah mendengar, tentang Bojes, sang Bintang AFI 3, yang disiarkan di salah satu stasiun swasta di Indonesia.
Acara makan bakso yang berkuah super pedas saya dihiasi oleh nyanyian Bojes. Lagu pertama yang dinyanyikan olehnya adalah - kalau tidak salah ingat - "Ku Tak Bisa". Lagu yang sudah sangat sering saya dengar mengudara di udara (memangnya di mana lagi?). Bosan saya mendengarnya. Apalagi, mendengar suara Bojes yang pas-pasan dan STD (standar, kata Meutia Kasim), saya jadi semakin tidak mempedulikan lagu yang dinyanyikannya.
Yang saya tangkap dan masih saya ingat dalam benak saya adalah: tidak ada yang spesial dengan suara Bojes. Banyak orang yang bisa menyanyi seperti dia. Bahkan suaranya hanya sekelas pengamen pinggir jalan yang sering mengamen di rumah-rumah makan sekitar BiNus. Popularitas dia sajalah yang dimanfaatkan untuk memperoleh uang.
Lebih heran lagi, begitu banyak yang berteriak histeris, menangis, menyalakan handphone dengan tangan teracung ke atas sambil berseru: "Bojes... Bojes...!", bahkan ada yang sampai pingsan karena kehabisan udara akibat padatnya kerumunan oranng saat itu. Sedikit hiperbolis memang, abaikan saja 4 karakteristik terakhir.
Tepuk tangan meriah mewarnai ending setiap lagu yang dinyanyikannya. Wajarlah kalau itu adalah bentuk apresiasi. Tapi kalau berlebihan, saya rasa tidak layak, karena toh performa yang dia tunjukkan biasa-biasa saja. Tidak ada yang benar-benar unik dan khas darinya.
Saya tidak bangga bahwa dia adalah seorang mahasiswa BiNus. Apa yang perlu dibanggakan? Toh, saya bukan dirinya. Dia mungkin bangga dengan dirinya sendiri. Tapi, bagi saya, tak ada yang perlu dibanggakan oleh BiNus, hanya karena dia adalah mahasiswa BiNus.
Mungkin anda berpikir bahwa saya hanya iri dan cemburu terhadapnya. Satu hal yang perlu anda tahu: saya tidak iri! Toh, saya juga pernah mengikuti audisi Indonesian Idol 2, walaupun tidak lolos ke babak spektakuler. Tapi, saya sudah cukup puas, karena pengalaman yang saya peroleh dari audisi itulah yang berharga. Bukan hasilnya.
Saya masih ingat perjuangan saya waktu audisi Indonesian Idol tersebut: sehari sebelum audisi ke kantor RCTI untuk mengambil surat undangan, kemudian pada hari audisi ternyata ada kuliah, lalu bergegas pulang dari kuliah bersama teman saya, mandi, berdandan (ala cowok tentunya!) dan ngebut naik taksi ke PRJ (Pasar Raya Jakarta).
Setelah itu, mengantri untuk registrasi, memakai nomor dada 10238, serta menunggu selama 5 jam untuk bisa masuk ke ruang penjurian, yang ternyata bukan diisi oleh 4 Juri Utama (Indra Lesmana, Titi DJ, Meutia Kasim, dan Dimas Jay), tapi diisi oleh 3 orang crew biasa. Saya baru tahu kalau audisi yang ditampilkan di televisi adalah audisi kedua, bukan audisi pertama.
Setelah munculnya American Idol di televisi Indonesia, maka acara-acara pencari bakat mulai menjamur dimana-mana. AFI (Akademi Fantasi Indonesia) adalah pelopor pertama acara pencarian bakat tersebut. Disusul oleh Indonesian Idol, dan kemudian diikuti oleh AFI Junior.
Sekarang, malah ada API (Akademi Pelawak Indonesia), KDI (Kontes Dangdut Indonesia), Dream Band, Miss Impian, dan Kontes Dai. Apakah produsen acara televisi telah kehabisan ide acara sehingga harus menyontek dari acara televisi luar negeri? Nanti mungkin menyusul kontes Miss Gay seperti yang sering diselenggarakan di Thailand.
Sisi komersial dari acara-acara tersebut memang besar. Untuk para penonton Indonesia yang masih belum sadar akan perlunya acara berkualitas, acara-acara tersebut justru menghibur. Maka para produsen pun mengeruk uang dari hal ini. Mungkin sudah saatnya kita lebih kreatif lagi. Saatnya untuk meningkatkan kualitas pertelevisian Indonesia. Jangan sampai sesama insan pertelevisian saling gontok-gontokan, seperti yang terjadi antara MTV Indonesia dan Global TV.
Produksilah acara yang berkualitas dan mampu mendidik bangsa Indonesia. Jangan memberikan iming-iming popularitas semu dengan cara yang kilat. Popularitas semu yang diraih melalui jalan cepat akan tetap semu dan tidak akan bertahan lama.
Tuesday, September 13, 2005
3 Days Of My Life
Saya duduk di depan komputer saya. Terbengong. Pikiran melayang tak tentu arahnya. Saya bingung mau menulis tentang apa untuk blog saya. Ide tak kunjung datang. Mood saya baik hari ini. Pikiran segar, sehabis bangun tidur siang. Tapi tetap saja tidak ada satu ide pun yang terlintas di kepala saya.
Akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan keseharian saya saja, khususnya apa yang terjadi selama 3 hari belakangan: minggu-senin-selasa.
Minggu
Hari minggu adalah harinya Tuhan, katanya. Saya heran dengan kalimat itu. Apa hanya hari minggu saja harinya Tuhan? Bukankah setiap hari adalah ciptaan Tuhan? Setiap hari harus disyukuri dan dinikmati. Ada yang mengatakan bahwa hari minggu memiliki berkat khusus. Menurut saya tidak. Hari minggu bukanlah hari sabat. Hari minggu justru merupakan hari pertama dalam 1 minggu.
Ke gereja hari minggu ini? Tidak. Saya tidak ke gereja hari minggu ini. Sudah lama saya tidak ke gereja. Saya tidak ingin menceritakan alasannya saat ini. Mungkin suatu saat akan saya ceritakan.
Saya bangun pukul 06.15 pagi. Terburu-buru mandi dan bersiap-siap ke kampus. Hari minggu ke kampus? Iya. Hari minggu ini ada tes penerimaan aktivis HIMTI 2005. Saya ditunjuk sebagai salah seorang pewawancara yang akan menentukan nasib beberapa orang yang akan saya wawancara dan juga nasib HIMTI sendiri. Sampai di kampus tepat pukul 07.00. Baru empat orang yang datang. Para aktivis dan pengurus HIMTI memang sering tidak tepat waktu. Tidak usah heran. Terlambat telah menjadi budaya manusia Indonesia.
Tes aktivis dimulai dengan tes tertulis. Setelah itu, para peserta yang telah mengikuti tes tertulis akan dituntun ke dalam suatu ruangan penghakiman, dimana nasibnya akan ditentukan dalam wawancara. Wajah-wajah ketakutan dan gugup memenuhi 3 ruangan wawancara, yang masing-masing diisi oleh 8 grup pewawancara yang terdiri dari 2 sampai 3 orang pewawancara.
Saya menempati sudut depan ruangan kelas L2C di Kampus Syahdan. Grup saya terdiri dari 2 orang saja: saya dan seorang lagi.
Saya mendapat giliran mewawancarai pada shift 1 dari pukul 9 sampai 12. Dalam selang waktu tersebut, saya mewawancarai 5 orang. Dari lima orang tersebut, saya hanya meloloskan 1 saja calon aktivis. Hanya 1 orang itu yang memenuhi standar yang saya dan teman pewawancara saya tetapkan. Dari empat lainnya, 3 orang masuk daftar pertimbangan, dan 1 lainnya gagal total.
Bandingkan dengan teman saya pewawancara yang lain yang tidak meloloskan satu pun dari 11 orang yang diwawancarainya. Bandingkan pula dengan pewawancara lainnya yang meloloskan 6 dari 10 orang yang diwawancarainya.
Pada saat shift 2 (pukul 12 sampai 4) hampir berakhir, saya ikut mewancarai seorang perempuan calon aktivis baru. Bersama 2 orang pewawancara lainnya, kami menyiksa batin dan pikiran dia. Saya sempat mengutarakan bahwa kerjaan HIMTI itu sangat berat dan berjalan secara bersamaan dengan kegiatan-kegiatan lainnya. Dia sempat kaget dan sangat bingung, sampai tidak bisa berkata apa-apa. Hal tersebut di luar ekspektasinya. Jelas saja, setelah wawancara selesai, kami bertiga memvonis hukuman gagal padanya.
Selesai semuanya diwawancarai, forum bersama diadakan untuk membahas tentang aktivis yang diterima. Ada perbedaan pendapat yang timbul. Namun, akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Saya merasa agak sedikit kecewa, karena dari 8 orang teman saya yang ikut tes tersebut, hanya 3 orang saja yang lulus. Tapi tak ada yang bisa saya perbuat, selain menguatkan hati teman-teman saya yang tidak lulus tersebut setelah mereka melihat pengumuman pada hari senin esoknya.
Saya hanya bisa mengatakan "Proficiat!!!" untuk semua orang yang diterima menjadi aktivis HIMTI 2005. Bagi yang belum diterima, jangan kecewa dan jangan putus asa. Tetaplah berusaha sebaik-baiknya.
Saya kembali ke kos pukul 5.30. Ayah saya akan datang ke kos saya. Ayah saya datang ke Jakarta dalam rangka mengikuti pertandingan tenis para hakim. Karena hari itu adalah hari minggu, maka ayah saya free. Setelah datang ke kos, kami pun pergi ke Citraland untuk membeli baju.
Dompet ayah saya terkuras, karena harus membeli 3 buah baju (1 untuk kakak perempuan saya di Manado, 1 untuk adik laki-laki saya di Manado, dan satunya lagi untuk saya sendiri) di Point Break. Baju kaos yang masing-masingnya seharga ratusan ribu rupiah itu pun akhirnya kami beli. Kapan lagi saya dapat membeli baju semahal itu? Peristiwa yang jarang terjadi itu harus dimanfaatkan.
Senin
Saya bangun pagi untuk kuliah. Masih mengantuk. Agak malas ke kampus. Tapi mau tidak mau saya harus ke kampus. Orang tua saya telah membayar mahal untuk membiayai saya kuliah. Saya tidak bisa menyia-nyiakan hal tersebut. Dua shift Metode Perancangan Program adalah mata kuliah penyambut di pagi hari ini, yang dilanjutkan dengan Bahasa Inggris II – yang diisi oleh sedikit kebingungan oleh dosennya, karena tidak mampu menjawab pertanyaan salah seorang teman dengan baik.
Pertanyaan yang sederhana, dijawab dengan salah. Bukannya mengakui kesalahannya, dia malah mengelak, dengan berkata bahwa hal tersebut juga sering didiskusikan oleh para grammarian di dunia. Sungguh cara ngeles yang sangat baik. Dia mungkin pantas mendapat Piala Citra sebagai pemeran pembantu pria terbaik. I mean it!
Rapat untuk lomba Expo HIMTI 2005 yang diadakan pukul 1 siang hanya dihadiri oleh 5 orang saja - sudah termasuk saya. Tapi, rapat itu akhirnya menghasilkan keputusan penting dan krusial.
Singkat cerita, hari senin ini saya sangat capek. Sisanya, tidak ada yang spesial. Hanya obrolan panjang dan curahan hati yang mewarnai malam itu di kamar salah seorang teman di kos saya.
Selasa
Hari ini saya pun bangun pagi-pagi untuk ke kampus. Rapat DPI - Koordinator Expo HIMTI 2005 harus saya hadiri. Selain itu saya juga memang harus pergi ke Baba Studio untuk menandatangani kontrak sponsor untuk lomba. Padahal hari ini saya harusnya libur karena tidak ada kelas sama sekali. Tapi toh akhirnya hari ini saya isi dengan kesibukan juga.
Hari ini adalah pertama kalinya saya menjadi seksi Hubungan Masyarakat, walaupun hanya sebentar saja. Pengalaman penandatanganan kontrak memang bukan suatu hal yang istimewa. Tapi pengalaman ini setidaknya memberi saya pelajaran berharga mengenai kepercayaan yang harus diemban.
Hubungan timbal balik harus dijaga agar tidak timbul kekecewaan di salah satu atau kedua pihak. Karena itu saya sangat ingin dan saya berusaha keras untuk menjaga kepercayaan tersebut.
Selain itu, tidak ada hal spesial lainnya pada hari ini.
Saturday, September 10, 2005
Good Insting
Insting atau naluri kadang-kadang diperlukan untuk memutuskan sesuatu. Dan insting itulah yang kadang-kadang justru menyelamatkan nyawa manusia. Lepas dari bahaya karena insting telah banyak dialami oleh para saksi hidup.
Mungkin insting itulah yang juga menolong saya untuk tidak mengalami kejadian buruk. Kejadiannya berlangsung pada hari Kamis, 8 September 2005. Selesai kuliah Analisis dan Perancangan Sistem pukul 06.00, saya pergi membeli printer baru bermerek Canon Pixma di sebuah toko komputer yang berlokasi di bilangan Syahdan.
Malam pukul 07.00 di kos, 2 orang teman sekos saya mengajak untuk pergi ke Bliss. Katanya ada acara khusus buat mahasiswa BiNus, Trisakti, dan UnTar, sehingga kita bisa masuk gratis, tanpa first drink tentunya. Sebenarnya saya tidak capek malam itu.
Ingin sih pergi ke Bliss, mengingat bahwa saya belum pernah pergi ke Bliss. Perasaan penasaran tentang bagaimana keadaan di Bliss ada dalam benak saya. Saya sudah mulai terbiasa dengan kehidupan malam.
Club malam, diskotik, kafe, dan pub, mulai saya kunjungi sejak semester 2 saya kuliah di BiNus. Diskotik pertama yang saya kunjungi di Jakarta adalah X-Lounge dan Vertigo di Plasa Semanggi. That was a very exciting experience, I think.
Begitu juga waktu saya ke Yogyakarta saat liburan semester 2. Hughos Cafe adalah pilihan yang cukup baik. Waktu itu, Shanty dan Andi /rif sedang perform. Salah satu keganjilan di Hughos adalah, lampunya sangat terang. Tidak biasanya untuk ukuran suatu diskotik yang ramai dikunjungi orang.
So, di awal perkuliahan semester 3 ini, saya sebenarnya ingin sekali-kali pergi clubbing. I like going to clubs. Karena itu, saya ingin ke Bliss, apalagi mendengar iming-iming kata "gratis".
Tapi entah kenapa, malam itu saya tidak terlalu bersemangat. Perasaan tidak enak melanda saya. Setelah berpikir sekian waktu, saya akhirnya memutuskan untuk menolak ajakan mereka. Faktor lain yang membulatkan keputusan saya saat itu adalah saya ingin ke warnet untuk meng-update blog saya.
Maka, tinggallah saya di kos.
Pukul 11.30 malam saya pergi ke warnet. Meng-update blog dan mengecek e-mail adalah pekerjaan wajib saat saya berhadapan dengan internet. Selain itu, malam itu saya berusaha mencari link teman lama saya. Ternyata saya belum beruntung, karena tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang teman saya itu.
Singkat cerita, besoknya, sebelum saya pergi mengajar trial class di Titans, saya mengobrol dengan sala satu teman sekos saya yang pada malam sebelumnya pergi ke Bliss. Dan ternyata ceritanya sangat mengejutkan saya.
Malam itu di Bliss terjadi kericuhan dan keributan besar. Teman-teman saya banyak yang terlibat perkelahian di sana. Saya tidak tahu persis masalah apa yang menyulut keributan itu. Yang jelas, mobil pacar teman saya rusak kacanya dan teman saya yang lainnya wajahnya bengkak dikeroyok orang.
Lebih menyeramkan lagi, kata dia, ada mahasiswa yang sempat mengeluarkan pistol dan samurai. Sangat berbahaya! Untung akhirnya polisi datang. Dan untungnya lagi, teman-teman saya tidak ada yang diciduk dan dibawa ke kantor polisi.
Hal inilah yang membuat saya kadang-kadang tidak merasa nyaman saat berada di lingkungan bar. Orang-orang tak dikenal yang overdrunk, bahaya narkoba, dan tersundut rokok adalah hal-hal yang saya takutkan.
Karena itulah, saya langsung bersyukur kepada Tuhan, kepada insting saya, dan kepada internet. Terbukti, insting adalah salah satu faktor yang menyelamatkan saya untuk tidak tidak terlibat dalam kerusuhan tersebut.
Friday, September 9, 2005
Stupid People
Setelah bingung dan pusing memikirkan ide untuk menulis di blog ini, akhirnya saya menjadi orang yang teriluminasi dengan satu ide yang cemerlang saat saya mandi malam ini. Ide tersebut bukan tentang mandi dan bukan sesuatu yang berhubungan dengan kamar mandi.
Ide tersebut adalah, "Apa yang harus kita lakukan terhadap orang-orang yang bodoh (baca: bego)?"
Entah apa yang saya pikirkan saat mandi sehingga saya mendapat ide liar seperti itu. Tapi apalah daya saya. Saya menganggap ide yang justru muncul tiba-tiba seperti itu adalah wangsit yang tidak boleh dilewatkan. Maka jadilah tulisan ini...
Pernakah kita berpikir jika semua orang di dunia ini pintar? Apa yang kira-kira akan terjadi? Semua orang sama pintarnya. Akibatnya, kita tidak bisa lagi mengejek dan menghina orang lain. Sangat tidak menyenangkan bukan?
Maka bersyukurlah kita yang hidup di dunia seperti ini. Setiap orang memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda. Tidak ada dua orang yang memiliki kepandaian yang sama persis. Bahkan dua anak kembar identik sekalipun memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda.
Maka, bila dikategorikan secara umum, di dunia ini ada dua jenis orang berdasarkan kepandaiannya. Sederhana saja menyebutnya. Orang pandai (smart people) dan orang bodoh (stupid people). Mungkin terlalu gamblang saya membaginya. Tapi itulah kenyataannya. Itulah stereotip yang dianut oleh masyarakat.
Apa karakteristik orang pandai? Bayangan saya seperti berikut.
Jago matematika.
Fasih berbicara dalam lebih dari dua bahasa.
Dapat menggunakan berbagai macam program komputer.
Luwes memainkan piano atau biola.
Berkacamata tebal.
Mungkin agak sedikit berbeda dengan bayangan yang ada di kepala anda. Tapi itu bukan masalah. Sekarang kita lanjutkan ke karakteristik orang bodoh.
Bicara tergagap-gagap.
Penampilan urakan.
Selalu kebingungan di sekolah.
Makan dengan rakus.
Aneh ya penggambaran saya? Tak apa-apa. Itu hanya imajinasi saya. Anda tentu saja bisa berimajinasi secara berbeda.
Sekarang anggaplah diri kita sebagai orang pintar yang berhadapan dengan orang bodoh. Pasti kita akan sebal jika bekerja bersama dengan orang bodoh. Kita jengkel karena mereka tidak bisa apa-apa, mengerjakan segala sesuatu secara asal-asalan, tidak ada yang dikerjakan berhasil.
Ingin rasanya mendamprat mereka.
Memaki. Memukul. Meludahi mereka.
Mengumpat. Menendang. Menginjak mereka.
Tapi, kita bukanlah orang pintar - setidaknya, saya bukan orang pintar. Jika kita masih merasa pintar, mungkin kita tidak sepintar yang kita bayangkan.
Kadangkala saya jengkel pada orang yang bodoh. Kadangkala saya pun jengkel pada orang yang pintar. Saya bukan orang yang bodoh dan saya pun tidak pintar.
Saya tidak menganggap diri saya sempurna, dan memang saya tidak sempurna. Saya tidak berhak dan tidak pantas menilai dan menghakimi orang lain. Seringkali memang kita menilai orang dari tingkat intelejensianya saja. Kasihan memang orang yang hanya mengandalkan kepintarannya dalam hidup. Kepintaran bukanlah segala-galanya.
Akhirnya, kembali pada pertanyaan awal, "Apa yang harus saya lakukan terhadap orang-orang bodoh?" Saya akan membela mereka di hadapan orang-orang yang (mengaku dirinya) pintar.
Wednesday, September 7, 2005
Lately
Sick! Itulah yang terjadi pada diri saya selama 3 hari belakangan ini. Mungkin banyak dari anda yang adalah teman-teman lama saya sejak SMA yang telah mengenal diri saya dengan baik merasa terheran-heran atas keadaan saya saat ini. Pertanyaan seperti: "Stewart sakit?" mungkin muncul di benak anda.
Begitulah yang saat ini terjadi. Stewart yang jarang sekali sakit sejak dilahirkan di dunia ini sekarang justru terbaring di tempat tidur, hanya beranjak saat pergi kuliah, makan, atau ke kamar mandi – dan ke warnet.
Daya tahan tubuh yang menurun secara drastis sejak HTTP 2005 pada tanggal 3 September 2005 yang membuat saya akhirnya terserang pilek, flu, dan demam. Kepala pusing, gangguan pernapasan, dan batuk-batuk menghiasi 3 hari belakangan dalam kehidupan saya. Batuk yang berdahak dan hidung tersumbat sungguh terasa tidak enak.
Ternyata inilah sakit yang telah lama tidak saya alami. Masih untung penyakit malaria saya tidak kambuh. Karena hanya malarialah satu-satunya penyakit yang bisa membuat saya benar-benar K.O. Sakit yang saya alami saat ini masihlah dalam taraf wajar, kalau menurut perhitungan dan pengalaman saya.
Memang saya sudah tahu sebelumnya kalau HTTP akan membuat saya lelah sekali. Jumat, 2 September 2005 saya pergi ke Gedung BPPT II bersama puluhan teman-teman lain dari HIMTI untuk mempersiapkan acara HTTP keesokan harinya. Makan malam yang terlambat menjadi makan tengah malam, yaitu pada jam 12 malam di McD Sarinah, yang harga makanannya benar-benar menguras kantung celana saya.
Tidur jam 3 subuh, yang diselingi oleh banyak gigitan nyamuk, semut, dan gangguan serangga-serangga malam lainnya, hanya sebagai sedikit recharging tenaga saya saja, karena akhirnya saya harus bangun pukul 5.30 pagi untuk kembali bersiap-siap.
Perubahan tugas utama saya, dari seksi dokumenter yang bertugas mengabadikan peristiwa besar setahun sekali itu menjadi foto dari kamera digital, berubah menjadi operator sebuah notebook yang berisi semua file-file lagu dan film yang dibutuhkan saat acara berlangsung. Duduk di balkon lantai dua dengan beberapa teman lainnya yang secara sukarela membantu saya membuat saya tidak merasa sebosan yang saya kira sebelumnya.
Singkat cerita, akhirnya kegiatan HTTP selesai diselenggarakan pada pukul 6 sore. Cukup sukses menurut saya. Sedikit kesalahan yang terjadi saat kegiatan berlangsung dapat diatasi dengan cukup baik. Memang ada beberapa pihak yang memang kurang puas dan merasa kecewa. Saya bersimpati atas kekecewaan mereka. Tapi, memang saya bukan orang yang punya kekuasaan yang cukup untuk merubah keadaan, setidaknya dengan meminta maaf.
Dan saya pun kembali ke kamar kos saya yang sejuk dan nyaman pada pukul 8 malam. Tertidur pada pukul 8 malam dalam keadaan tubuh yang sangat capek dan lelah membuat saya baru bisa bangun keesokan harinya (minggu) pada pukul 1.30 siang. Dan waktu bangun itulah saya merasa tubuh saya mulai sakit. Namun, saya masih terlalu percaya bahwa saya bisa memulihkan kondisi saya dengan cepat hari itu. Tidak meminum suplemen multivitamin terbukti merupakan keputusan saya yang fatal, buruk, dan salah total.
Pergi masuk kuliah pada hari pertama perkuliahan (Senin, 5 September 2005) dalam keadaan tubuh yang kurang sehat tetap tidak terlalu mengganggu kegiatan saya. Pelajaran Metode Perancangan Program terasa membosankan dan terlalu teoritis. Buku-buku tebal dan mahal harus kembali saya beli semester ini. Di kelas yang baru, saya berharap menemukan teman-teman baru. Namun cukup banyak orang yang telah saya kenal sebelumnya di kelas tersebut. "Oh si Anu yang dulu itu" atau "Eh, si Anu juga di kelas ini toh?" baik secara verbal maupun nonverbal merupakan ekspresi keterkejutan saya.
Shift 3, yaitu pelajaran Bahasa Inggris II, membuat saya kecewa. Dari semua pelajaran di semester 3 ini, saya senang karena ada 1 pelajaran yang setidaknya saya kuasai dengan baik, yaitu Bahasa Inggris. Karena itu saya banyak berharap dosen Bahasa Inggris adalah dosen yang benar-benar bisa membangkitkan antusiasme saya dalam berbahasa Inggris.
Tapi harapan itu tiba-tiba pupus dan hilang diterbangkan waktu. Sang dosen hanya bisa bercuap-cuap dalam bahasa Indonesia. Mengaku bekerja selama sekian tahun di kedutaan besar salah satu negara di Indonesia toh ternyata tidak membuat dia serta-merta selalu menggunakan bahasa Inggris dalam kelas yang bermata kuliah bahasa Inggris.
"Success at language is more a matter of application than of intelligence," itulah kalimat nan indah yang ditulisnya di papan tulis. Menekankan pada application, tapi tidak melakukannya di dalam kelas. Bagaimana saya bisa berbicara dalam bahasa Inggris kalau dosennya tidak mengisi pembicaraan dalam kelas dengan berbahasa Inggris?
Mungkin kesan yang saya tangkap itu hanya karena baru pertama kali bertemu. Jauh di dalam lubuk hati saya, saya masih tetap berharap di pertemuan-pertemuan berikutnya, sang dosen mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam berbahasa Inggris.
Akhirnya, doakan saya supaca saya benar-benar sembuh dengan cepat untuk kembali mengisi hari-hari dengan keceriaan lagi.
Ungu Violet
Akhirnya novel yang saya beli di toko buku Gramedia Citraland berjudul Ungu Violet selesai saya baca. Novel ini saya baca saat saya tidak ada pekerjaan yang harus saya lakukan, dan sambil tidur-tiduran atau sebelum tidur di kamar kos saya.
Novel ini sendiri merupakan adaptasi dari film yang berjudul sama. Dikarang oleh penulis bernama Miranda, novel ini menyajikan suatu kisah percintaan perkotaan. Seorang laki-laki yang bekerja sebagai fotografer menemukan sesosok objek foto yang dianggapnya calon bintang masa depan. Gadis tersebut adalah seorang penjaga loket tiket busway.
Mereka berdua pun jatuh cinta. Namun, sang laki-laki menyatakan bahwa mereka tidak dapat bersama, setelah mereka berdua berciuman di apartemen sang laki-laki. Kecewa dan terluka, itulah yang dialami sang gadis. Ia tidak tahu bahwa keputusan yang diambil sang pujaan hati dikarenakan oleh kondisi kesehatan sang laki-laki yang buruk. Sang lelaki menderita penyakit kanker otak stadium 3, yang berarti bahwa umurnya divonis kurang dari 2 tahun lagi.
Sakit yang dialami laki-laki tersebut membuatnya kacau dalam pekerjaannya. Ia pun dipecat dari kantornya, dan akhirnya menjadi fotografer freelancer. Sang gadis pun akhirnya menjadi seorang bintang tenar, yang sangat sibuk dan ingin dinikahi oleh manajernya. Namun, sang gadis tidak memiliki perasaan cinta terhadap manajernya itu.
Suatu waktu, kedua pecinta yang tetap memendam perasaan cintanya itu bertemu dalam suatu acara. Namun, sang gadis tertabrak mobil yang mengakibatkan kedua matanya buta. Umur sang laki-laki pun mendekati akhirnya. Sang lelaki meninggal dan sang gadis mendapat donor mata dari seorang gadis kecil yang mengidolakannya dan terbaring sakit di rumah sakit yang sama tempat sang gadis dirawat.
Novel ini memang cukup mengharukan. Akhir cerita yang menurut saya tergolong "sad ending" karena kedua pecinta tidak dapat bersatu, benar-benar membuat saya sedih. Perkiraan saya bahwa sang lelakilah yang akan mendonorkan matanya, terbukti salah.
Pertanyaan terbesar saya setelah selesai membaca novel ini tetap tidak terjawab secara memuaskan. "Mengapa novel ini diberi judul Ungu Violet?" Padahal Ungu Violet itu sendiri diceritakan dalam novel ini hanya sebagai satu buah lagu yang disukai oleh sang gadis. Ungu Violet sendiri hanya disebutkan sekitar 5 kali dalam novel ini, kalau saya tidak salah menghitung.
Tidak jelas memang. Ungu Violet menurut saya bukan esensi dan tema dari novel ini yang patut untuk dijadikan judul. Saya tidak tahu apa pertimbangan dari sang penulis skenario film Ungu Violet yang menamakan filmnya Ungu Violet. Apa hanya untuk terdengar keren dan memberi kesan romantis-dramatis?
Thursday, September 1, 2005
Kekeliruan dan kesalahkaprahan
Masih terngiang kata yang belum lama ini baru saja saya dengar: kelirumologi. Adalah (mungkin) Jaya Suprana yang pertama kali memopulerkan kata tersebut. Kalau dilihat dari akhiran -logi yang dibubuhkan pada kata keliru, maka bisa saja (bahkan pasti) bahwa arti dari kelirumologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai kekeliruan.
Membaca buku Antologi Kelirumologi karangan Jaya Suprana merupakan suatu hal yang cukup mengasyikkan. Memang ada beberapa kekeliruan yang dipaparkan oleh Jaya Suprana yang telah saya ketahui sebelumnya. Namun cukup banyak pula yang baru saya ketahui dan membuka wawasan saya tentang begitu banyaknya kekeliruan yang selalu dilakukan oleh banyak orang, dan bahkan telah dianggap sebagai sesuatu yang benar.
Melihat banyaknya kekeliruan tersebut, saya juga memiliki daftar kekeliruan yang sering dilakukan orang, mulai dari kekeliruan penggunaan bahasa Indonesia yang benar sampai pada kekeliruan anggapan masyarakat umum terhadap suatu hal. Kesalahkaprahan yang sering terjadi kadang-kadang telah mendarahdaging sehingga sangat sulit untuk dikoreksi. Beberapa kekeliruan dari daftar saya ini saya bahas di sini.
1. Kata feminin
Begitu banyak orang yang selalu menggunakan kata feminim untuk menggambarkan sifat kelemahlembutan perempuan. Padahal kata feminim itu jelas salah. Kata yang benar adalah feminin. Kata feminin ini sendiri jika dibandingkan dengan kata dari bahasa Inggris, yaitu feminine memiliki kemiripan. Jadi, bukan feminim melainkan feminin.
2. Waktu dan tempat
Pada banyak acara, baik itu pesta, seminar, maupun debat, pembawa acara saat mempersilakan seorang pembicara untuk maju ke panggung untuk berbicara, sering memberikan ungkapan ajakan: "Kepada Bapak / Ibu, waktu dan tempat kami persilakan."
Ungkapan ini benar-benar menggelitik saya. Siapa yang harusnya maju? Bapak / Ibu yang akan berbicara atau waktu dan tempat. Kalau dari ungkapan tersebut, sebenarnya berarti waktu dan tempat yang dipersilakan untuk maju ke depan. Harusnya, "Kepada Bapak / Ibu, waktu dan tempat kami sediakan."
3. Pulang pergi
Singkatan PP yang tertera di bus-bus, kereta-kereta api, maupun angkutan-angkutan umum lainnya sering mencantumkan jalur yang dilewatinya. Misalnya saja: "Tanah Abang - Grogol PP". PP sendiri banyak kali diartikan sebagai singkatan dari Pulang Pergi. Apakah kita pulang dulu ke rumah lalu pergi ke tujuan kita? Tentu tidak. Kita harusnya pergi ke tujuan, lalu pulang kembali ke asal kita. Jadi, seharusnya, singkatan PP berarti Pergi Pulang.
4. Kata dirgahayu
Pada berbagai peristiwa peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, banyak pihak yang memasang spanduk bertuliskan: "Dirgahayu Republik Indonesia ke-60". Ungkapan ini menurut Antologi Kelirumologi Jaya Suprana adalah suatu kekeliruan. Menurut dia, Republik Indonesia hanyalah satu, bukan 60. Tidak ada Republik Indonesia yang ke-60. Maka, seharusnya, menurut dia, ungkapan tersebut berbunyi: "Dirgahayu ke-60 Republik Indonesia". Tapi ternyata seorang Jaya Suprana yang telah menerbitkan beberapa edisi Kaleidoskopo Kelirumologi dan - yang terakhir diterbitkan - Antologi Kelirumologi, masih bisa keliru dalam mengoreksi kekeliruan. Jaya Suprana tidak melihat kembali arti sebenarnya dari kata dirgahayu. Dia - dan banyak orang lainnya - mengartikan dirgahayu sebagai selamat ulang tahun. Padahal arti kata dirgahayu sebenarnya adalah "semoga panjang umur". Jadi, sebenarnya, haruslah: "Dirgahayu Republik Indonesia" segala.
5. Penyebutan kata pasca
Banyak kata gabung yang menggunakan awalan serapan pasca yang sering digunakan. Sebut saja pascapanen, pascabayar, dan pasca kerusuhan. Bahasa Indonesia sendiri mempunyai aturan dalam penyebutan (pengucapan), yaitu mengucapkan kata sesuai huruf-huruf yang dibaca secara bahasa Indonesia. Misalnya c, diucapkan c bukan k atau s. Begitu pula seharusnya dengan cara mengucapkan kata pasca. Harusnya dibaca pasca, bukan paska. Namun masih banyak orang Indonesia yang membacanya paska, baik karena terpengaruh bahasa lain maupun karena tidak tahu cara baca yang benar dalam bahasa Indonesia.
6. Huruf c
Masih tentang huruf c yang memiliki banyak masalah. Gabungan kata seperti vitamin c sering diucapkan dengan salah. Biasanya orang yang mungkin terpengaruh oleh bahasa Inggris membacanya sebagai vitamin "se". Padahal, dalam bahasa Inggris sendiri, dibacanya justru vitamin "si". Jadi, kita harus konsisten dalam berbahasa Indonesia. Huruf c harus dibaca "ce".
Sekian dulu pembahasan dalam entri kekeliruan dan kesalahkaprahan kali ini. Mungkin dalam waktu mendatang saya aka membahas lagi mengenai kekeliruan dan kesalahkaprahan yang sering dilakukan oleh banyak orang. Semoga kita tidak pernah keliru lagi dalam hal-hal yang telah saya koreksi di atas.








