Wednesday, August 31, 2005

5cm

Jangan bingung dulu saat membaca judul entri ini. Judul ini bukan berarti saya ingin menceritakan tentang ukuran sesuatu. 5cm merupakan judul buku yang dikarang oleh Donny Dhirgantoro, yang juga sama sekali tidak menceritakan tentang ukuran sesuatu.

Novel ini memang sejak pertama kali terbitnya telah menarik perhatian saya saat saya melihatnya di toko-toko buku, seperti Gramedia dan Gunung Agung, saat saya hang out, baik sendiri maupun bersama-sama dengan teman-teman saya, ke Citraland ataupun Taman Anggrek. Melihat novel ini dipajang di Lysin pun membuat saya cukup tergoda untuk membelinya, apalagi saat membaca ringkasan pendek di cover belakangnya.

Namun karena berhubung saya tidak mempunyai uang yang banyak, dan dikejar-kejar oleh "penghematan", juga karena saya pikir saya lebih baik membeli buku yang lebih penting dulu, maka saya menunda untuk membelinya.

Tidak saya rencanakan, akhirnya saya membeli juga buku ini di Lysin, dengan mendapatkan diskon sebesar 20%. Bosan dengan bacaan-bacaan di rak-rak buku saya yang telah saya lahap, saya pun akhirnya menghabiskan uang saya untuk membelinya, yang bertepatan pada hari saya pertama mengajar pengantar bahasa C kepada mahasiswa-mahasiswa baru di kelas trial gratis di Titans Learning Center untuk tahun akademik yang baru ini.

Setelah membaca buku ini selama 3 hari, saya akhirnya berhasil menyelesaikan membaca keseluruhan novel ini, yang akan saya ceritakan sedikit garis besarnya di sini.

Syahdan ada 5 orang sahabat - 4 laki-laki dan 1 orang perempuan - yang sudah berteman sejak masih SMA dan saat ini sebagian besar dari mereka telah menempuh dunia kerja dan yang lainnya masih belum lulus kuliah karena belum (lebih tepatnya menunda) menyelesaikan skripsinya.

Mereka semua memiliki kegemaran yang berbeda-beda dan selalu bersama-sama mencoba melakukan berbagai hal, mulai dari yang dianggap orang adalah sesuatu yang biasa, sampai yang dipikirkan orang adalah hal yang gila. Mereka pun sama-sama menyukai musik, walaupun dengan genre yang berbeda-beda pula, dan juga menyukai berbagai jenis film, mulai dari film nasional sampai film hollywood, kecuali film India atau film Bollywood, karena semuanya berprinsip bahwa segala persoalan dan masalah yang ada di dunia ini pasti ada jalan keluarnya, tapi bukan dalam bentuk joget.

Akibat pertemanan yang demikian erat selama 7 tahun, mereka hampir tiap hari mengalami rutinitas pertemanan yang sama, walaupun bisa dikatakan memiliki sedikit variasi atas hal yang dilakukan. Mencapai apa yang telah digariskan oleh Law of the Diminishing Marginal, maka mereka mencapai suatu titik pemahaman, dimana mereka semua merasa bahwa mereka harus mengalami perpisahan dan jeda pertemanan selama kurun waktu tertentu, yang akhirnya ditentukan selama 3 bulan.

Selama 3 bulan tersebut, tidak ada kontak dan komunikasi satu sama lainnya. Pertemanan yang dulunya sedemikian erat, sekarang harus dihadapi dalam bentuk lain: perpisahan sejenak. Tak bisa dibayangkan oleh benak saya betapa rindunya mereka satu sama lain - rindu akan teman-teman, rindu akan canda dan gurauan, rindu akan kebersamaan yang selalu menghias hari-hari mereka yang cerah di dunia Indonesia yang menurut mereka kelam ini.

Akhirnya setelah 3 bulan berlalu mereka kembali bertemu dan melakukan suatu perjalanan, yaitu mendaki puncak Mahameru dan merayakan upacara pengibaran bendera merah putih di puncakitu pada tanggal 17 Agustus bersama-sama dengan sekian pendaki gunung lainnya.

Mereka berlima ini berlatarbelakang mahasiswa yang juga aktivis, yang ikut berdemo pada waktu Reformasi. Mereka berlima juga menyukai kutipan-kutipan, lirik-lirik, dan karya-karya sastra yang keren. Justru anehnya, mereka semua dalam novel ini sering sekali menuturkan berbaris-baris kalimat yang dikutip dari puisi, lirik, dan ucapan orang terkenal dari buku, lagu, dan musik.

Kok bisa ya mereka hafal 100% teks-teks tersebut? Padahal panjangnya saja tidak bisa dibilang pendek. Berbait-bait dihafalkan dan diucapkan - serta-merta langsung ditanggapi, "keren...," oleh yang lainnya, untuk kemudian ditanyakan kepada yang lainnya: "ini dari siapa?" Dan yang lain pun langsung menebaknya.

Yang justru terlalu klise juga yaitu tentang kisah percintaan yang dikisahkan, dimana ada orang yang menyukai salah satu di antara mereka, sementara yang satu tersebut menyukai yang lainnya, sementara yang lainnya itu menyukai adik dari salah seorang yang lain. Rumit memang.

Dan pada akhirnya karena semua cinta segi banyak itu terbongkar, dan tidak ada konflik sebenarnya dalam pembongkaran kisah cinta tersebut, maka pada akhir cerita dikisahkan bahwa mereka akhirnya kawin mawin, bahkan ada yang menikah dengan salah satu pendaki gunung mahameru, dan ada pula yang menikah dengan teman dari perempuan yang pernah dicintainya.

Memang secara overall saya suka novel ini. Menceritakan persahabatan dan perjuangan manusia untuk mencari jati diri. Selain itu novel ini pun mengajarkan tentang kepantang-menyerahan.
Mereka berlima sama-sama menganut kepercayaan bahwa tidak baik membicarakan tentang kejelekan orang lain saat orang lain tersebut tidak ada, karena tidak akan berguna sama sekali untuk memperbaiki diri.


Dan kalau dalam keadaan terpaksa, mereka hanya akan berdiskusi tentang orang tersebut selama 3 menit, tidak bisa lebih. Namun, tentu saja mereka lebih memilih untuk bicara langsung dengan orang yang bersangkutan.

Ungkapan "5cm" sendiri baru mulai diceritakan pada bab akhir novel ini. Ternyata 5 cm bukanlah ukuran sesuatu, melainkan jarak telunjuk dari pelipis sebagai bentuk "camkan di sini". Biarkanlah itu menggantung, dan bisa dilihat oleh mata, agar kita selalu diingatkan untuk mencapai dan meraih sesuatu.

"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja dan hati yang akan bekerja keras lebih dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa."

"Sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain." (Adrian)

Tuesday, August 30, 2005

Blog Juga Karya Cipta

Gw udah bolak-ablik beberapa blog en di blog2 tersebut ada banner en logo CP dicoret, trus ada yang tertulis NO Copy Paste, en ada yang Blog Juga Karya Cipta. Tertarik untuk membacanya, gw pun langsung liat aja, ada apa sih sebenernya. Ternyata gerakan ini adalah gerakan untuk mendukung NO PLAGIARISM yang akhir2 ini mulai muncul dan merebak di kalangan para blogger.

Ada banyak postingan or entri yang dicontek oleh orang lain. Tidak cuma tulisan, sekarang content, layout, dan design blog juga udah mulai ditiru habis2an oleh oknum2 tertentu. Gw ga tau kenapa. Mungkin karna liat design en layout blog someone itu bagus, makanya diconteklah habis2an source-nya. En mungkin juga karna no skill kali ya...

Yang pasti, gw pun sangat mendukung gerakan NO COPY PASTE en NO PLAGIARISM. Blog itu juga termasuk karya cipta. Jadi, tidak bisa diedarkan untuk tujuan komersil oleh orang lain en tidak bisa dicontek. Bisa sih ditampilkan oleh orang lain, asalkan dengan mencantumkan sumber asli en sumber lengkapnya agar orang lain yang melihat dan membacanya tahu siapa original maker-nya.

So, karna itu gw juga (ikut2an) pasang banner Blog Juga Hasil Karya Cipta dengan lambang CP yang dicoret miring yang diambil dari SINI, yang menandakan bahwa gw juga mendukung gerakan ini. En gw pn mendaftar di common license untuk mengecek copyright yang bisa gw dapet dari blog gw. So, blog ini pun skarang udah dilindungi oleh Creative Common License dengan syarat2 tertentu untuk diambil, dikopi, atau dicantumkan oleh orang lain di tempat lain.

*****

Skarang gw lagi di warnet. Baru aja selesai rapat Lomba untuk Expo HIMTI 2005. Dari 12 orang anggota, ternyata cuman 5 yang bisa datang. Yang lainnya? Berhalangan. Entah itu alasannya mulai dari sakit, ada yang sedang workshop, ada yang ga bisa dihubungi, sampe ada yang ga ada kabar sama sekali. Mungkin ada beberapa yang alasannya bisa ditolerir. Tapi mungkin ada yang emang ga mau datang. Emang ga niat kali ya buat rapat.

Tapi it's ok lah. Gw cukup puas dengan hasil rapat lomba hari ini. Banyak yang kita bicarain en didapat hasil yang cukup menggembirakan mengenai progress persiapan lomba ini. Penasaran lomba apa? Nanti aja gw posting tentang lomba itu kalo udah selesai persiapannya.

En, skarang kenapa gw di warnet? Sebenarnya gw ga niat en ga rencanain untuk ke warnet siang2 panas gini. Mending juga gw tidur di kamar kosan gw yang adem ayem, sejuk, en tentram. Cuman karna abis rapat lomba gw musti ketemu ama temen, jadi sambil menunggu dia, gw ke warnet aja dulu. Masih ada 2 jam lagi gw musti nungguin dia. Gw abis itu musti ke Konica di bawah Apartemen Mediterrania buat ngecetak nametag buat para panitia HTTP (HIMTI Togetherness 'n Top Performace) 2005 yang akan diadain tanggal 3 September nanti.

Gw sendiri masuk dalam kepanitiaannya, sebagai anggota seksi Publikasi dan Dokumentasi. So, tugas gw sendiri buat nametag en ngeprint. Trus gw juga dikasih tugas buat bikin movie tentang HIMTI yang akan ditayangin pas hari H-nya. Untung gw dibantu ama 2 orang temen gw yang emang jago pake Macromedia Flash. Jadi, kerjaan gw jadi lebih mudah, walaupun kadang2 gw rasa2nya udah mo gila... (serius...)

Belum lagi karna gw jadi koordinator lomba Expo. So, gw tiap malam skarang menderita INSOMNIA BERAT. Tiap malam gw jadi susah tidur karna mikirin tugas2 gw yang harus gw lakuin. Mungkin nanti gw bisa terheran2 kalo abis Expo gw bener2 ga gila.
So, doain gw aja semoga gw bisa lakuin semuanya dengan BAIK.

Monday, August 29, 2005

Heboh

Wow... gw baru tahu kalo ada kehebohan yang bener2 heboh di dunia blog. Salah satunya diberitakan di SINI dan di SANA.

Gw taunya sih dari temen gw yang mungkin lagi browsing blog2 tadi malam. So, pas tadi gw datang ke kampus buat ketemu orang, temen gw itu bilang ke gw tentang seorang blogger bernama Natasha yang telah meninggal dunia pada pukul 13.00 tanggal 16 Agustus 2005 setelah mendapat mimpi buruk pada hari yang sama dan memposting tulisan tentang mimpi buruknya juga pada hari yang sama pada jam 11.00.

Malah yan lebih herannya lagi, beberapa waktu kemudian, tuisannya di BLOG dia malah tidak bisa dilihat lagi en dari accountnya di FRIENDSTER menunjukkan bahwa dia last login pada tanggal 24 Agustus 2005. Heran kan?

Pokoknya berita ini jadi perbincangan dimana2, terutama di kalangan para bloger. Gw ga tahu apakah dia bener2 nyata ataukah cuman fiktif. Hal ini juga masih jadi pertanyaan banyak orang. Hanya Tuhan yang tahu...

Wednesday, August 24, 2005

Kemerdekaan: Nasionalisme dan Ga-mau-tau-isme

Pada tanggal 17 Agustus 2005 ini bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-60. Kalau kita runut lagi perjuangan bangsa Indonesia mulai dari zaman kebangkitan nasional sampai saat ini, tentu saja ada begitu banyak perubahan yang terjadi. Sebut saja mulai dari terbentuknya organisasi-organisasi yang bersifat kooperatif untuk menentang penjajahan, tercetusnya sumpah pemuda pada Kongres Pemuda II tahun 1928, pemroklamiran kemerdekaan Republik Indonesia oleh pendiri negara ini (dalam bahasa kerennya: founding fathers), yaitu Soekarno dan Hatta, sampai pembangunan nasional yang terus dilakukan sampai saat ini.

Munculnya nasionalisme dimana-mana merupakan salah satu hal yang dianggap sebagai faktor penentu dan pendorong kemerdekaan Indonesia. Malah, kadang-kadang nasionalisme itu muncul dalam kadar yang berlebihan, mengakibatkan sovinisme (chauvinisme) mencuat di kalangan rakyat Indonesia yang sedang berjuang.

Tentu saja perjuangan untuk mencapai kemerdekaan bukanlah suatu perjuangan yang mudah. Perjuangan itu sendiri akhirnya tidaklah sia-sia, karena dengan perjuangan itu, kita semua bisa hidup dalam suasana dan iklim kemerdekaan yang sangat dirindukan oleh semua orang. Kemerdekaan merupakan suatu impian dan cita-cita setiap orang, baik itu merdeka dalam pengertian badaniah (bebas dari perbudakan dan kolonialisme) maupun batiniah (bebas dari rasa takut dalam kehidupan).

Selama 60 tahun Indonesia merdeka, ada begitu banyak pembangunan, kemajuan dan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tentu saja kita bersyukur akan semuanya itu. Namun, di sisi lain, masih begitu banyak kemelaratan dan kekacauan yang terjadi di negeri ini. Memang tidak ada satupun negara di dunia ini yang mempunyai rakyat yang semuanya makmur. Tapi, adalah cita-cita semua negara untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya.

"Sejauh manakah pemerintah Indonesia telah berupaya untuk memakmurkan dan mengangkat derajat kemanusiaan bangsa ini?" adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.

Mari kita berangan-angan sejenak. Tidak ada salahnya untuk berimajinasi sebentar. Bayangkan jika negara kita tidak merdeka.

Bayangkan jika negara ini masih di bawah penjajahan Belanda. Apa yang kira-kira akan terjadi? Dalam angan-angan saya, saya melihat bahwa semua penduduk Indonesia saat ini menggunakan bahasa Belanda dalam hidup keseharian maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Penduduk Indonesia semuanya bergaya Eropa, baik dari pakaian sampai gaya hidup masyarakat. Rumah-rumahnya semua bernuansa Eropa. Ada begitu banyak orang Belanda yang hidup membaur dengan masyarakat pribumi.

Bayangkan jika negara ini di bawah penjajahan Inggris. Apa yang kira-kira akan terjadi? Dalam benak saya, tergambar bahwa semua penduduk Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Semuanya fasih berbicara bahasa Inggris. Masyarakat memperoleh pendidikan yang baik dan dimana-mana terjadi pembangunan yang pesat. Indonesia menjadi salah satu negara persemakmuran Inggris bersama dengan ratusan koloni lainnya.

Bayangkan jika negara ini dalam penjajahan Jepang. Apa yang kira-kira akan terjadi? Dalam bayangan saya, saya melihat semua penduduk Indonesia menggunakan bahasa Jepang, baik hiragana, katakana, maupun kanji. Masyarakat ada yang memuja Kaisar sebagai dewa matahari, dan agama Shinto menjadi salah satu agama yang resmi. Gedung-gedung pencakar langit dan tahan gempa ada disana-sini.

Bayangkan jika negara ini ada dalam pendudukan sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat. Apa yang kira-kira akan terjadi? Masyarakat Indonesia sekarang memakai mata uang US$ (Dolar AS) dalam perekonomiannya dan memiliki kondisi keuangan yang sangat baik. Angkatan perang Indonesia sangatlah hebat serta badan intelijennya sangatlah berpengaruh di dunia spionase dalam mengatasi terorisme di dunia.

Namun, sangat disayangkan bahwa semuanya itu tidak terjadi.

Bangsa ini justru memilih untuk merdeka.
Bangsa ini justru menginginkan kedaulatan sendiri.
Bangsa ini justru mendirikan negara sendiri.

Bangsa Indonesia merasa sudah siap untuk memiliki pemerintahan sendiri dan mengatur urusan dalam negerinya tanpa campur tangan pihak-pihak lain. Dan memang keputusan itu adalah keputusan yang tepat. Terbukti, bahwa Indonesia tetap berdiri, walaupun diagresi oleh Belanda sebanyak dua kali. Indonesia tetap kokoh berdiri meskipun pemberontakan dan gerakan separatis ada di seluruh pelosok tanah air.

Indonesia tetap menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tetap ada dan tetap memainkan peranannya dalam dunia internasional melalui keikutsertaannya dalam berbagai organisasi internasional, sebut saja ASEAN, PBB, dan APEC. Pemerintah Indonesia berhasil membawa rakyatnya menuju pada swasembada pangan dan menjadi salah satu negara eksportir besar dunia.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa keadaan Indonesia saat ini sekali lagi berada dalam kondisi yang cukup terpuruk. Namun, kita juga melihat secercah cahaya yang menyinari bangsa ini. Indonesia mulai kembali memperbaiki dan membenahi dirinya. Nasionalisme yang mulai disulut oleh mahasiswa seakan-akan membakar hati warga Indonesia. Namun, di sela-sela kebangkitan itu, tetap saja ada oknum-oknum yang menganut paham ga-mau-tau-isme. Hal inilah yang justru menjadi kendala nomor satu yang menghambat kemajuan.

Namun ada hal yang sangat disayangkan. Orang-orang penganut paham ga-mau-tau-isme itu sering tidak memperdulikan lagi makna kemerdekaan. Bahkan rumah tempat dibacakannya naskah proklamasi di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 sudah tidak ada lagi. Semua tinggal cerita. Jalan itu sekarang sudah berganti nama menjadi Jalan Proklamasi. Rumahnya? Lenyap. Hanya ada tugu, patung proklamator, dan sebuah gedung di situ. Tempat tinggal Soekarno itu sudah hampir selama 44 tahun raib.

Bagaimanakah sebuah negara besar tidak memiliki bukti otentik dari proses kelahirannya? Apakah itu karena surutnya semangat nasionalisme dalam diri bangsa ini?

Dalam memperingati 60 tahun kemerdekaan RI ini, di seantero nusantara biasanya diselenggarakan lomba-lomba rakyat, mulai dari lomba panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, sampai lomba lari kelereng. Di kelurahan tempat saya kos pun diselenggarakan acara-acara tersebut. Namun, saya tidak tertarik sama sekali untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Bukan berarti saya tidak ikut bergembira merayakan kemerdekaan Indonesia. Bukan juga berarti bahwa saya tidak bisa menjalin pergaulan di lingkungan sosial tempat saya tinggal untuk saat ini.

Sebabnya adalah bahwa mungkin saya adalah salah satu penganut paham ga-mau-tau-isme tersebut. Salahkah saya? Kontradiktif dan paradoksial. Pasti salah satu atau kedua kata itulah yang muncul di benak anda, karena sebelumnya saya mencecar para penganut paham ga-mau-tau-isme, dan kemudian saya mengaku bahwa saya adalah salah satu dari antara mereka.

Tapi, jangan dulu terlalu jauh menghakimi saya. Saya ingin melakukan pembelaan diri terlebih dahulu. Saya dengan jujur dan penuh kesadaran diri dalam semangat narsisme, mengaku bahwa saya adalah penganut paham ga-mau-tau-isme, tapi dalam konteks nasionalisme. Lebih bingung lagi?

Akan saya jelaskan. Saya berpikir bahwa tidak ada gunanya bersenang-senang dan merayakan dengan meriah kegembiraan ini. Saya memilih untuk tetap melakukan tugas-tugas saya, daripada berpesta pora. Bangsa ini terlalu banyak bermain-main dan bersantai. Sudah saatnya semua orang serius untuk menekuni pekerjaannya, yang sekecil apapun tetap akan memberikan sumbangsih yang besar dan berharga bagi kemajuan Indonesia.

Jadi, jelas bahwa saya bersikap ga-mau-tau dalam konteks berpesta pora (walaupun untuk merayakan kemerdekaan) sebagai salah satu sikap nasionalis saya terhadap bangsa dan negara Indonesia. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, ”Di manakah posisi anda sekarang? Di sudut nasionalis atau sudut ga-mau-tau-is?”

(Ditulis pada tanggal 18 Agustus 2005 untuk diikutsertakan dalam Lomba Entri Blog 17-an BlogFam)

Wednesday, August 17, 2005

The Independence Day

Well, ga rasa kalo hari ini Republik Indonesia udah berumur 60 taon. So, gw mo ngucapin Happy 60th Independence Day buat Indonesia. "MERDEKA...!!!" (ikut2an ah... :D)

Liburan ini gw agak bosen, karena gw ga bisa menikmati liburan ini. Tugas-tugas en kerjaan yang banyak banget bikin gw ga bisa senang-senang enjoy my holiday. Untunglah gw sempet liburan ke Jogja selama seminggu dari tanggal 26 Juli sampe 1 Agustus. Gw perginya bareng temen2 gw, total kita ber-7 ke Jogja. En, tentang kisah gw liburan di jogja, mungkin akan gw posting di lain kesempatan. Gw lagi malas ngarang skarang.

Gw skarang lagi mikirin ide buat nulis untuk ikutin lomba ngarang Entri 17-an di Blogfam. Makanya gw harus taroh banner-nya di blog ini (seperti yang bisa dilihat di sidebar seblah kanan halaman blog ini).

So, gw post aja puisi yang gw buat, en pernah gw posting di Underground Forum.


Pagi

Kutersadar
Dari alam mimpiku
Bangun dari kekosonganku
Bangkit dari kehampaanku
Menambut datangnya cahaya
Lembayung merona

Keterjagaanku membuatku sadar
Pikiran mulai memenuhi kepalaku
Penat rasanya
Kembali ke alam nyata
Menyambut hidup

Siapakah aku ini?
Yang mampu protes
Pada hidup yang aku punya
Bukankah aku ini secuil
Di luasnya alam semesta?

Kini
Kusambut hari
Dengan senyuman
Dengan hati tenang
Kukatakan
"Indahnya hidup ini"

(Pukul 1.05 AM Waktu Komputer Gw)

Tuesday, August 16, 2005

Ciuman

Well, at last setelah sekian lama ga posting, gw akhirnya sempet juga buat posting. Tapi, gw lagi bingung mo nulis apa. So, gw posting aja tulisan yang pernah gw buat (udah lumayan lama umurnya en masih kesimpan di harddisk kompie gw) untuk dimuat di HIMTIMagz - Buletin untuk HIMTI, yang ga jadi dimuat. Komentar para atasan gw, katanya:
1. MaQ said, "gw suka gaya penceritaan lu".
2. Pit said, "gw ga suka karna terlalu subyektif".
3. Rad said, "harusnya tidak memihak".

Btw, gw tetep senang dengan artikel gw ini, karna ini artikel pertama yang gw buat untuk HIMTIMagz - terlepas dari dipakai ato engga.

So, here it is, an article by Stewart entitled : "Ciuman (Eng: Kissing)".


Ciuman

Kemarin (Sabtu, 26 Februari 2005) ada acara musik bernama Evening Jazz yang diselenggarakan oleh UKM Band BiNus dan Lea Jeans sebagai sponsornya. Acara ini selain menampilkan band dan penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu bernuansa jazz, juga menampilkan beberapa artis sebagai pendukung acaranya. Ada Gugun “Gondrong” yang jadi MC (master of ceremony – red), ada Sandy Aulia yang bertugas jadi pembaca puisi (walaupun masih jauh bagusnya dari Tamara Blezinski yang juga pernah datang di acara serupa tahun lalu dan membaca puisi juga), dan ada pula Maylafaiza yang main alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara digesek (katanya sih namanya biola, benar atau tidaknya saya pun masih ragu). Acara ini sebenarnya dimulai jam 7 malam teng. Sayangnya saya ketiduran dari sore harinya (kecapekan karena ada rapat Buletin sampai jam 3 sore di kampus), dan baru pergi ke kampus (tepatnya di Plasa Syahdan) jam 9 malam (dengan tujuan utama mengambil uang dari ATM). Tertarik karena mendengar lagu-lagu yang jazzy (I love jazz!), saya pun menonton acara itu.

Setelah beberapa lagu dilantunkan, Gugun “Gondrong”, sang MC kebanggaan yang rambutnya panjang dan kelihatan kumal, pun mengadakan satu permainan. Permainan ini melibatkan 3 orang pasangan yang dipilih dari para penonton. Pasangan yang dipilih adalah pasangan yang sungguh-sungguh telah berpacaran. Gugun pun melontarkan beberapa pertanyaan yang harus dituliskan oleh cowok-cowok dan cewek-cewek yang dipilih tersebut secara terpisah. Pertanyaannya lumayan lucu (ada juga beberapa yang jayus), misalnya saja “apa hadiah pertama yang diberikan pacar kamu?” atau “kapan kalian pertama kali jadian?”. Namun, ada satu hal yang menyentak saya, yaitu saat Gugun menanyakan: “Kapan dan dimana kalian pertama kali berciuman?” Orang-orang yang menyaksikan acara ini spontan tertawa (terbahak-bahak tidak karuan malah, bahkan ada yang tertawa sampai nangis), dan Gugun sendiri melontarkan suatu statement yang menyentak saya: “Hari gini masa pacaran engga pernah ciuman?” Saya jadi berpikir, apakah statement itu secara esensial benar adanya? Apakah memang benar harus seperti itu? Apakah pacaran itu harus berciuman?

Saya jadi teringat akan suatu perayaan yang sering disebut Hari Valentine (itu lho, hari dimana setiap orang berbagi kasih sayang kepada orang lain, tahu kan?). Saya lihat saat ini, Hari Valentine sudah sangat berbeda dengan Hari Valentine yang dijadikan perayaan oleh Gereja Katolik pada tahun 269 M. Waktu itu, Hari Valentine adalah hari peringatan masuknya St. Valentine ke rumah berukuran 2x1 meter (maksud saya kuburan). Saat ia masih hidup dan dipenjara, ia selalu mengirimkan kartu ucapan: “I Love You” (mungkin juga surat cinta) kepada orang-orang yang dicintainya. Namun, saya tidak akan bercerita tentang sejarah di sini, mungkin itu bisa dibahas di tempat dan waktu yang lain. Singkatnya, dari sinilah tradisi Hari Valentine untuk mengirimkan kartu ucapan Valentine ke orang-orang yang disayangi.

Beberapa tahun yang lalu, para pasangan hanya saling memberikan bunga dan cokelat. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang. Para pasangan bukan dan mungkin tidak lagi memberikan bunga dan cokelat, tapi banyak yang memberikan kondom dan tubuh masing-masing. Dulu orang merayakan Hari Valentine di gereja dan berkata “O God”, sekarang orang merayakan Valentine di tempat tidur dan berkata “O God!” (sambil berteriak dan mendesah penuh hasrat). Ini menunjukkan bahwa Hari Valentine sudah berubah makna dan bentuknya.

Well, itu tadi hanyalah intermezzo saja. Sekarang kembali ke pokok permasalahan semula, yaitu tentang ciuman. Apa sih sebenarnya esensi pacaran? Supaya saling mengenal kan? Darimana sih ada aturan yang mengatakan untuk saling ciuman supaya bisa saling mengenal? Lagipula, kita kan tinggal di masyarakat yang berbudaya ketimuran, dimana masyarakatnya itu sangat menjunjung tinggi norma-norma (apa itu norma bisa dilihat di kamus Bahasa Indonesia) kesopanan. Adalah suatu hal yang tabu untuk berciuman bagi pasangan yang belum menikah, apalagi berciuman di tempat-tempat umum. Hal-hal yang biasanya hanya ada di maysarakat barat sudah mulai nampak dan dilakukan dalam masyarakat kita. Berciuman mulai dianggap lumrah bagi sebagian orang.

Maksud saya menulis tulisan ini adalah untuk menyatakan sikap saya tentang ciuman. Saya kurang setuju dengan pernyataan Gugun tersebut. Menurut saya, berpacaran tidaklah selalu harus ciuman. Namun, saya pun tidak melarang pasangan untuk berciuman. Itu hak mereka kok. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, janganlah berciuman di tempat-tempat umum. Saya pernah melihat beberapa pasangan di taman yang berciuman dengan begitu panasnya (padahal malam itu dingin lho). Bukankah itu hal yang tidak pantas? Kalau mau berciuman, lakukanlah di tempat yang sunyi, misalnya di kamar mandi, kamar kos, atau di ruang tamu pacar waktu ngapel malam mingguan saat bonyoknya lagi bepergian. Tapi, tentu saja hal itu ada batasannya. Jangan dikira, ciuman itu tidak ada batasannya. Karena, survey membuktikan, ciuman (apalagi yang French kiss – ciuman yang melibatkan lidah) bisa merangsang kedua orang yang berciuman untuk melangkah lebih jauh lagi ke hubungan badan (bisa meraba-raba beberapa bagian tubuh, bisa petting, bahkan bisa sampai hubungan seks). Persoalannya bisa tambah runyam bila terjadi hal tersebut, dan tidak ada penggunaan kondom saat melakukan hubungan seks. Bisa terjadi kehamilan di luar nikah, dan mungkin ada yang melakukan aborsi karena tidak siap menjadi orang tua. Pokoknya akibatnya bisa ngelantur kemana-mana dan fatal.

Jadi, hati-hatilah kalau mau berciuman. Ciumlah pasangan anda di tempat-tempat yang tidak merangsang libido, misalnya di pipi atau di dahi. Tapi, anda pun berhak menolak berciuman jika anda merasa tidak nyaman dengan hal itu. Pernyataan: “Ciuman merupakan bukti cinta” hanyalah filsafat kosong dan tidak perlu digubris. Pesan saya: “be wise, and be happy!”