Thursday, September 15, 2005

Popularitas Semu

Ada dua hal menyenangkan yang saya alami kemarin.

Pertama, dosen Kalkulus II saya berhalangan hadir. Artinya, saya tidak perlu menghabiskan dua shift di kampus untuk menghitung persamaan diferensial dan pengintegralan, yang saya rasa tidak berguna dan tidak aplikatif untuk kehidupan saya saat ini.

Kedua, saya menyusup ke kelas teman saya untuk mengikuti pelajaran Bahasa Inggris II. Gugup dan agak takut memang, karena saya khawatir jika diabsen dan ada quiz. Ternyata kekhawatiran saya tidak terwujud. Kelas itu cukup menyenangkan.

Setelah kelas Bahasa Inggris tersebut, saya dan teman-teman lainnya makan di food court kampus Anggrek. Ternyata UKM Band sedang melakukan konser untuk penggalangan dana. Tebak siapa bintang tamunya? Tak lain dan tak bukan, bintang tamunya adalah Bojes. Dengan asumsi bahwa anda mengetahui, setidaknya pernah mendengar, tentang Bojes, sang Bintang AFI 3, yang disiarkan di salah satu stasiun swasta di Indonesia.

Acara makan bakso yang berkuah super pedas saya dihiasi oleh nyanyian Bojes. Lagu pertama yang dinyanyikan olehnya adalah - kalau tidak salah ingat - "Ku Tak Bisa". Lagu yang sudah sangat sering saya dengar mengudara di udara (memangnya di mana lagi?). Bosan saya mendengarnya. Apalagi, mendengar suara Bojes yang pas-pasan dan STD (standar, kata Meutia Kasim), saya jadi semakin tidak mempedulikan lagu yang dinyanyikannya.

Yang saya tangkap dan masih saya ingat dalam benak saya adalah: tidak ada yang spesial dengan suara Bojes. Banyak orang yang bisa menyanyi seperti dia. Bahkan suaranya hanya sekelas pengamen pinggir jalan yang sering mengamen di rumah-rumah makan sekitar BiNus. Popularitas dia sajalah yang dimanfaatkan untuk memperoleh uang.

Lebih heran lagi, begitu banyak yang berteriak histeris, menangis, menyalakan handphone dengan tangan teracung ke atas sambil berseru: "Bojes... Bojes...!", bahkan ada yang sampai pingsan karena kehabisan udara akibat padatnya kerumunan oranng saat itu. Sedikit hiperbolis memang, abaikan saja 4 karakteristik terakhir.

Tepuk tangan meriah mewarnai ending setiap lagu yang dinyanyikannya. Wajarlah kalau itu adalah bentuk apresiasi. Tapi kalau berlebihan, saya rasa tidak layak, karena toh performa yang dia tunjukkan biasa-biasa saja. Tidak ada yang benar-benar unik dan khas darinya.

Saya tidak bangga bahwa dia adalah seorang mahasiswa BiNus. Apa yang perlu dibanggakan? Toh, saya bukan dirinya. Dia mungkin bangga dengan dirinya sendiri. Tapi, bagi saya, tak ada yang perlu dibanggakan oleh BiNus, hanya karena dia adalah mahasiswa BiNus.

Mungkin anda berpikir bahwa saya hanya iri dan cemburu terhadapnya. Satu hal yang perlu anda tahu: saya tidak iri! Toh, saya juga pernah mengikuti audisi Indonesian Idol 2, walaupun tidak lolos ke babak spektakuler. Tapi, saya sudah cukup puas, karena pengalaman yang saya peroleh dari audisi itulah yang berharga. Bukan hasilnya.

Saya masih ingat perjuangan saya waktu audisi Indonesian Idol tersebut: sehari sebelum audisi ke kantor RCTI untuk mengambil surat undangan, kemudian pada hari audisi ternyata ada kuliah, lalu bergegas pulang dari kuliah bersama teman saya, mandi, berdandan (ala cowok tentunya!) dan ngebut naik taksi ke PRJ (Pasar Raya Jakarta).

Setelah itu, mengantri untuk registrasi, memakai nomor dada 10238, serta menunggu selama 5 jam untuk bisa masuk ke ruang penjurian, yang ternyata bukan diisi oleh 4 Juri Utama (Indra Lesmana, Titi DJ, Meutia Kasim, dan Dimas Jay), tapi diisi oleh 3 orang crew biasa. Saya baru tahu kalau audisi yang ditampilkan di televisi adalah audisi kedua, bukan audisi pertama.

Setelah munculnya American Idol di televisi Indonesia, maka acara-acara pencari bakat mulai menjamur dimana-mana. AFI (Akademi Fantasi Indonesia) adalah pelopor pertama acara pencarian bakat tersebut. Disusul oleh Indonesian Idol, dan kemudian diikuti oleh AFI Junior.

Sekarang, malah ada API (Akademi Pelawak Indonesia), KDI (Kontes Dangdut Indonesia), Dream Band, Miss Impian, dan Kontes Dai. Apakah produsen acara televisi telah kehabisan ide acara sehingga harus menyontek dari acara televisi luar negeri? Nanti mungkin menyusul kontes Miss Gay seperti yang sering diselenggarakan di Thailand.

Sisi komersial dari acara-acara tersebut memang besar. Untuk para penonton Indonesia yang masih belum sadar akan perlunya acara berkualitas, acara-acara tersebut justru menghibur. Maka para produsen pun mengeruk uang dari hal ini. Mungkin sudah saatnya kita lebih kreatif lagi. Saatnya untuk meningkatkan kualitas pertelevisian Indonesia. Jangan sampai sesama insan pertelevisian saling gontok-gontokan, seperti yang terjadi antara MTV Indonesia dan Global TV.

Produksilah acara yang berkualitas dan mampu mendidik bangsa Indonesia. Jangan memberikan iming-iming popularitas semu dengan cara yang kilat. Popularitas semu yang diraih melalui jalan cepat akan tetap semu dan tidak akan bertahan lama.

10 comments:

BeD said...

Memang si.. saya setuju dengan "sesuatu yang kilat (bukan guntur ya!!!) akan berakhir dengan kilat juga".
Tapi inget lho... klo dia berhasil dengan jalur kilat... dan terus mau berusaha, bukan tidak mungkin dia akan berhasil di masa mendatang...
O iya, ralat dikit ni...
Bojes bukan AFI 3 lho...
Tapi AFI 2005.
I'll wait for post loe yang baru.. OK
Sukses...

Stewart said...

Ow... sori untuk kesalahan gw... Thanx untuk ralatnya. Maklum, gw jarang banget nonton AFI sih. Karna menurut gw kualitasnya standar2 aja. :D

mike_the_necromancer said...

same to me .. pas bojes nyanyi ga gue gubris ... bahkan gue ga tau dia siapa sampe ada org teriak2 "iihhh Bojes... BOJESSSS " .. lagian gue kuliah ini :-" ... sedikit comment buat poster ato apalah itu ... nampaknya size logo lomba mesti lbh gede dikit dr size logo expo bener ga ??? ato malah kebalik ?? soalnya lomba kan bagian dr expo :D ... suit yourself .. B-)

Stewart said...

@michael: untuk logo lomba amalogo expo udah pas. menurut DPI juga udah pas. asalkan logo lomba ga melebihi logo expo. anyway, thanx buat pendapatnya... :D

Chris said...

Wah... Aku ketinggalan banyak info neh.. Lucu juga yah namanyal Bojes. Hahahaha :))

stewart said...

@chris: hehehe... jadi ga tahu AFI ya ojo? gpp lah kan lu di singapura. hal2 ga penting di binus ga usah digubris. mending kan fokus ke kuliah... hehehehe... :D

stewart said...

@chris: hehehe... jadi ga tahu AFI ya ojo? gpp lah kan lu di singapura. hal2 ga penting di binus ga usah digubris. mending kan fokus ke kuliah... hehehehe... :D

pakerwe said...

Bwuahahha, kalkulus tidak aplikatif katanya. Dulu waktu semester awal gw juga pernah berpikiran yg sama dengan lu :D

Stewart said...

@pakerwe: ya kan saya bilang tidak aplikatif untuk saya SAAT INI. belum tahu deh ke depannya, apakah kalkulus akan jadi kebutuhan saya atau tidak.

qinkqonk said...

mas bojeznya marah ngga yah?
hihihi

www.qinkqonk.com