Pada tanggal 17 Agustus 2005 ini bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-60. Kalau kita runut lagi perjuangan bangsa Indonesia mulai dari zaman kebangkitan nasional sampai saat ini, tentu saja ada begitu banyak perubahan yang terjadi. Sebut saja mulai dari terbentuknya organisasi-organisasi yang bersifat kooperatif untuk menentang penjajahan, tercetusnya sumpah pemuda pada Kongres Pemuda II tahun 1928, pemroklamiran kemerdekaan Republik Indonesia oleh pendiri negara ini (dalam bahasa kerennya: founding fathers), yaitu Soekarno dan Hatta, sampai pembangunan nasional yang terus dilakukan sampai saat ini.
Munculnya nasionalisme dimana-mana merupakan salah satu hal yang dianggap sebagai faktor penentu dan pendorong kemerdekaan Indonesia. Malah, kadang-kadang nasionalisme itu muncul dalam kadar yang berlebihan, mengakibatkan sovinisme (chauvinisme) mencuat di kalangan rakyat Indonesia yang sedang berjuang.
Tentu saja perjuangan untuk mencapai kemerdekaan bukanlah suatu perjuangan yang mudah. Perjuangan itu sendiri akhirnya tidaklah sia-sia, karena dengan perjuangan itu, kita semua bisa hidup dalam suasana dan iklim kemerdekaan yang sangat dirindukan oleh semua orang. Kemerdekaan merupakan suatu impian dan cita-cita setiap orang, baik itu merdeka dalam pengertian badaniah (bebas dari perbudakan dan kolonialisme) maupun batiniah (bebas dari rasa takut dalam kehidupan).
Selama 60 tahun Indonesia merdeka, ada begitu banyak pembangunan, kemajuan dan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tentu saja kita bersyukur akan semuanya itu. Namun, di sisi lain, masih begitu banyak kemelaratan dan kekacauan yang terjadi di negeri ini. Memang tidak ada satupun negara di dunia ini yang mempunyai rakyat yang semuanya makmur. Tapi, adalah cita-cita semua negara untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya.
"Sejauh manakah pemerintah Indonesia telah berupaya untuk memakmurkan dan mengangkat derajat kemanusiaan bangsa ini?" adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.
Mari kita berangan-angan sejenak. Tidak ada salahnya untuk berimajinasi sebentar. Bayangkan jika negara kita tidak merdeka.
Bayangkan jika negara ini masih di bawah penjajahan Belanda. Apa yang kira-kira akan terjadi? Dalam angan-angan saya, saya melihat bahwa semua penduduk Indonesia saat ini menggunakan bahasa Belanda dalam hidup keseharian maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Penduduk Indonesia semuanya bergaya Eropa, baik dari pakaian sampai gaya hidup masyarakat. Rumah-rumahnya semua bernuansa Eropa. Ada begitu banyak orang Belanda yang hidup membaur dengan masyarakat pribumi.
Bayangkan jika negara ini di bawah penjajahan Inggris. Apa yang kira-kira akan terjadi? Dalam benak saya, tergambar bahwa semua penduduk Indonesia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Semuanya fasih berbicara bahasa Inggris. Masyarakat memperoleh pendidikan yang baik dan dimana-mana terjadi pembangunan yang pesat. Indonesia menjadi salah satu negara persemakmuran Inggris bersama dengan ratusan koloni lainnya.
Bayangkan jika negara ini dalam penjajahan Jepang. Apa yang kira-kira akan terjadi? Dalam bayangan saya, saya melihat semua penduduk Indonesia menggunakan bahasa Jepang, baik hiragana, katakana, maupun kanji. Masyarakat ada yang memuja Kaisar sebagai dewa matahari, dan agama Shinto menjadi salah satu agama yang resmi. Gedung-gedung pencakar langit dan tahan gempa ada disana-sini.
Bayangkan jika negara ini ada dalam pendudukan sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat. Apa yang kira-kira akan terjadi? Masyarakat Indonesia sekarang memakai mata uang US$ (Dolar AS) dalam perekonomiannya dan memiliki kondisi keuangan yang sangat baik. Angkatan perang Indonesia sangatlah hebat serta badan intelijennya sangatlah berpengaruh di dunia spionase dalam mengatasi terorisme di dunia.
Namun, sangat disayangkan bahwa semuanya itu tidak terjadi.
Bangsa ini justru memilih untuk merdeka.
Bangsa ini justru menginginkan kedaulatan sendiri.
Bangsa ini justru mendirikan negara sendiri.
Bangsa Indonesia merasa sudah siap untuk memiliki pemerintahan sendiri dan mengatur urusan dalam negerinya tanpa campur tangan pihak-pihak lain. Dan memang keputusan itu adalah keputusan yang tepat. Terbukti, bahwa Indonesia tetap berdiri, walaupun diagresi oleh Belanda sebanyak dua kali. Indonesia tetap kokoh berdiri meskipun pemberontakan dan gerakan separatis ada di seluruh pelosok tanah air.
Indonesia tetap menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tetap ada dan tetap memainkan peranannya dalam dunia internasional melalui keikutsertaannya dalam berbagai organisasi internasional, sebut saja ASEAN, PBB, dan APEC. Pemerintah Indonesia berhasil membawa rakyatnya menuju pada swasembada pangan dan menjadi salah satu negara eksportir besar dunia.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa keadaan Indonesia saat ini sekali lagi berada dalam kondisi yang cukup terpuruk. Namun, kita juga melihat secercah cahaya yang menyinari bangsa ini. Indonesia mulai kembali memperbaiki dan membenahi dirinya. Nasionalisme yang mulai disulut oleh mahasiswa seakan-akan membakar hati warga Indonesia. Namun, di sela-sela kebangkitan itu, tetap saja ada oknum-oknum yang menganut paham ga-mau-tau-isme. Hal inilah yang justru menjadi kendala nomor satu yang menghambat kemajuan.
Namun ada hal yang sangat disayangkan. Orang-orang penganut paham ga-mau-tau-isme itu sering tidak memperdulikan lagi makna kemerdekaan. Bahkan rumah tempat dibacakannya naskah proklamasi di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 sudah tidak ada lagi. Semua tinggal cerita. Jalan itu sekarang sudah berganti nama menjadi Jalan Proklamasi. Rumahnya? Lenyap. Hanya ada tugu, patung proklamator, dan sebuah gedung di situ. Tempat tinggal Soekarno itu sudah hampir selama 44 tahun raib.
Bagaimanakah sebuah negara besar tidak memiliki bukti otentik dari proses kelahirannya? Apakah itu karena surutnya semangat nasionalisme dalam diri bangsa ini?
Dalam memperingati 60 tahun kemerdekaan RI ini, di seantero nusantara biasanya diselenggarakan lomba-lomba rakyat, mulai dari lomba panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, sampai lomba lari kelereng. Di kelurahan tempat saya kos pun diselenggarakan acara-acara tersebut. Namun, saya tidak tertarik sama sekali untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Bukan berarti saya tidak ikut bergembira merayakan kemerdekaan Indonesia. Bukan juga berarti bahwa saya tidak bisa menjalin pergaulan di lingkungan sosial tempat saya tinggal untuk saat ini.
Sebabnya adalah bahwa mungkin saya adalah salah satu penganut paham ga-mau-tau-isme tersebut. Salahkah saya? Kontradiktif dan paradoksial. Pasti salah satu atau kedua kata itulah yang muncul di benak anda, karena sebelumnya saya mencecar para penganut paham ga-mau-tau-isme, dan kemudian saya mengaku bahwa saya adalah salah satu dari antara mereka.
Tapi, jangan dulu terlalu jauh menghakimi saya. Saya ingin melakukan pembelaan diri terlebih dahulu. Saya dengan jujur dan penuh kesadaran diri dalam semangat narsisme, mengaku bahwa saya adalah penganut paham ga-mau-tau-isme, tapi dalam konteks nasionalisme. Lebih bingung lagi?
Akan saya jelaskan. Saya berpikir bahwa tidak ada gunanya bersenang-senang dan merayakan dengan meriah kegembiraan ini. Saya memilih untuk tetap melakukan tugas-tugas saya, daripada berpesta pora. Bangsa ini terlalu banyak bermain-main dan bersantai. Sudah saatnya semua orang serius untuk menekuni pekerjaannya, yang sekecil apapun tetap akan memberikan sumbangsih yang besar dan berharga bagi kemajuan Indonesia.
Jadi, jelas bahwa saya bersikap ga-mau-tau dalam konteks berpesta pora (walaupun untuk merayakan kemerdekaan) sebagai salah satu sikap nasionalis saya terhadap bangsa dan negara Indonesia. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, ”Di manakah posisi anda sekarang? Di sudut nasionalis atau sudut ga-mau-tau-is?”
(Ditulis pada tanggal 18 Agustus 2005 untuk diikutsertakan dalam Lomba Entri Blog 17-an BlogFam)
Wednesday, August 24, 2005
Kemerdekaan: Nasionalisme dan Ga-mau-tau-isme
Inscribed by
Stewart
at
10:25 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)








5 comments:
Peserta, entry lomba di blog ini, panitia posting juga di blog khusus http://lomba-blogfam.blogspot.com untuk keperluan kemudahan member Blogfam dalam memilih ‘pemenang favorit lomba entry 17-an Blogfam’ yang akan dilaksanakan pada 26-29 Agustus 2005 di Galery Kreasi Blogfam. Mengingat jumlah peserta lomba entry mencapai 61 peserta. Pesan ini sebagai pemberitahuan. Terima kasih atas partisipasi dan kesediaannya. Selamat Berlomba ;)
Merdeka Stewart! Saya juri lomba 17-an blogfam. Semoga menang ya ?
SUKSES LOMBANYA & MET WIKEN YAH :)
posisi dan sudut saya ada di tanah sebrang. :D
makasih ya, stewart. udah ikutan lomba 17-an blogfam.
buat pak amril, thanks ya... semoga aja gw menang? bisa ga ya? hehehe...
buat jellyjuice, thanks juga. btw, blognya jellyjuice alamatnya apa ya?
buat sa, thanks again. tapi posisi sa ada di tanag seberang mana? seberang lautan? ato seberang lapangan? hehehehe...
Post a Comment