Tuesday, August 16, 2005

Ciuman

Well, at last setelah sekian lama ga posting, gw akhirnya sempet juga buat posting. Tapi, gw lagi bingung mo nulis apa. So, gw posting aja tulisan yang pernah gw buat (udah lumayan lama umurnya en masih kesimpan di harddisk kompie gw) untuk dimuat di HIMTIMagz - Buletin untuk HIMTI, yang ga jadi dimuat. Komentar para atasan gw, katanya:
1. MaQ said, "gw suka gaya penceritaan lu".
2. Pit said, "gw ga suka karna terlalu subyektif".
3. Rad said, "harusnya tidak memihak".

Btw, gw tetep senang dengan artikel gw ini, karna ini artikel pertama yang gw buat untuk HIMTIMagz - terlepas dari dipakai ato engga.

So, here it is, an article by Stewart entitled : "Ciuman (Eng: Kissing)".


Ciuman

Kemarin (Sabtu, 26 Februari 2005) ada acara musik bernama Evening Jazz yang diselenggarakan oleh UKM Band BiNus dan Lea Jeans sebagai sponsornya. Acara ini selain menampilkan band dan penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu bernuansa jazz, juga menampilkan beberapa artis sebagai pendukung acaranya. Ada Gugun “Gondrong” yang jadi MC (master of ceremony – red), ada Sandy Aulia yang bertugas jadi pembaca puisi (walaupun masih jauh bagusnya dari Tamara Blezinski yang juga pernah datang di acara serupa tahun lalu dan membaca puisi juga), dan ada pula Maylafaiza yang main alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara digesek (katanya sih namanya biola, benar atau tidaknya saya pun masih ragu). Acara ini sebenarnya dimulai jam 7 malam teng. Sayangnya saya ketiduran dari sore harinya (kecapekan karena ada rapat Buletin sampai jam 3 sore di kampus), dan baru pergi ke kampus (tepatnya di Plasa Syahdan) jam 9 malam (dengan tujuan utama mengambil uang dari ATM). Tertarik karena mendengar lagu-lagu yang jazzy (I love jazz!), saya pun menonton acara itu.

Setelah beberapa lagu dilantunkan, Gugun “Gondrong”, sang MC kebanggaan yang rambutnya panjang dan kelihatan kumal, pun mengadakan satu permainan. Permainan ini melibatkan 3 orang pasangan yang dipilih dari para penonton. Pasangan yang dipilih adalah pasangan yang sungguh-sungguh telah berpacaran. Gugun pun melontarkan beberapa pertanyaan yang harus dituliskan oleh cowok-cowok dan cewek-cewek yang dipilih tersebut secara terpisah. Pertanyaannya lumayan lucu (ada juga beberapa yang jayus), misalnya saja “apa hadiah pertama yang diberikan pacar kamu?” atau “kapan kalian pertama kali jadian?”. Namun, ada satu hal yang menyentak saya, yaitu saat Gugun menanyakan: “Kapan dan dimana kalian pertama kali berciuman?” Orang-orang yang menyaksikan acara ini spontan tertawa (terbahak-bahak tidak karuan malah, bahkan ada yang tertawa sampai nangis), dan Gugun sendiri melontarkan suatu statement yang menyentak saya: “Hari gini masa pacaran engga pernah ciuman?” Saya jadi berpikir, apakah statement itu secara esensial benar adanya? Apakah memang benar harus seperti itu? Apakah pacaran itu harus berciuman?

Saya jadi teringat akan suatu perayaan yang sering disebut Hari Valentine (itu lho, hari dimana setiap orang berbagi kasih sayang kepada orang lain, tahu kan?). Saya lihat saat ini, Hari Valentine sudah sangat berbeda dengan Hari Valentine yang dijadikan perayaan oleh Gereja Katolik pada tahun 269 M. Waktu itu, Hari Valentine adalah hari peringatan masuknya St. Valentine ke rumah berukuran 2x1 meter (maksud saya kuburan). Saat ia masih hidup dan dipenjara, ia selalu mengirimkan kartu ucapan: “I Love You” (mungkin juga surat cinta) kepada orang-orang yang dicintainya. Namun, saya tidak akan bercerita tentang sejarah di sini, mungkin itu bisa dibahas di tempat dan waktu yang lain. Singkatnya, dari sinilah tradisi Hari Valentine untuk mengirimkan kartu ucapan Valentine ke orang-orang yang disayangi.

Beberapa tahun yang lalu, para pasangan hanya saling memberikan bunga dan cokelat. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang. Para pasangan bukan dan mungkin tidak lagi memberikan bunga dan cokelat, tapi banyak yang memberikan kondom dan tubuh masing-masing. Dulu orang merayakan Hari Valentine di gereja dan berkata “O God”, sekarang orang merayakan Valentine di tempat tidur dan berkata “O God!” (sambil berteriak dan mendesah penuh hasrat). Ini menunjukkan bahwa Hari Valentine sudah berubah makna dan bentuknya.

Well, itu tadi hanyalah intermezzo saja. Sekarang kembali ke pokok permasalahan semula, yaitu tentang ciuman. Apa sih sebenarnya esensi pacaran? Supaya saling mengenal kan? Darimana sih ada aturan yang mengatakan untuk saling ciuman supaya bisa saling mengenal? Lagipula, kita kan tinggal di masyarakat yang berbudaya ketimuran, dimana masyarakatnya itu sangat menjunjung tinggi norma-norma (apa itu norma bisa dilihat di kamus Bahasa Indonesia) kesopanan. Adalah suatu hal yang tabu untuk berciuman bagi pasangan yang belum menikah, apalagi berciuman di tempat-tempat umum. Hal-hal yang biasanya hanya ada di maysarakat barat sudah mulai nampak dan dilakukan dalam masyarakat kita. Berciuman mulai dianggap lumrah bagi sebagian orang.

Maksud saya menulis tulisan ini adalah untuk menyatakan sikap saya tentang ciuman. Saya kurang setuju dengan pernyataan Gugun tersebut. Menurut saya, berpacaran tidaklah selalu harus ciuman. Namun, saya pun tidak melarang pasangan untuk berciuman. Itu hak mereka kok. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, janganlah berciuman di tempat-tempat umum. Saya pernah melihat beberapa pasangan di taman yang berciuman dengan begitu panasnya (padahal malam itu dingin lho). Bukankah itu hal yang tidak pantas? Kalau mau berciuman, lakukanlah di tempat yang sunyi, misalnya di kamar mandi, kamar kos, atau di ruang tamu pacar waktu ngapel malam mingguan saat bonyoknya lagi bepergian. Tapi, tentu saja hal itu ada batasannya. Jangan dikira, ciuman itu tidak ada batasannya. Karena, survey membuktikan, ciuman (apalagi yang French kiss – ciuman yang melibatkan lidah) bisa merangsang kedua orang yang berciuman untuk melangkah lebih jauh lagi ke hubungan badan (bisa meraba-raba beberapa bagian tubuh, bisa petting, bahkan bisa sampai hubungan seks). Persoalannya bisa tambah runyam bila terjadi hal tersebut, dan tidak ada penggunaan kondom saat melakukan hubungan seks. Bisa terjadi kehamilan di luar nikah, dan mungkin ada yang melakukan aborsi karena tidak siap menjadi orang tua. Pokoknya akibatnya bisa ngelantur kemana-mana dan fatal.

Jadi, hati-hatilah kalau mau berciuman. Ciumlah pasangan anda di tempat-tempat yang tidak merangsang libido, misalnya di pipi atau di dahi. Tapi, anda pun berhak menolak berciuman jika anda merasa tidak nyaman dengan hal itu. Pernyataan: “Ciuman merupakan bukti cinta” hanyalah filsafat kosong dan tidak perlu digubris. Pesan saya: “be wise, and be happy!”

1 comments:

Anonymous said...

ternyata di jaman yang seperti ini masih ada juga yang menulis tentang menolak berciuman.saya pribadi setuju banget bahwa pacaran gak musti ciuman bibir.thank's a lot for the note...menyemangati saya untuk terus lebih menjaga diri saya...